Balada  Seorang Gubernur Terpidana (Untuk Ahok)

Pengamat politik Presiden University, Muhammad AS Hikam. (Foto: Ist)

Oleh: Muhammad AS Hikam

I

Mendung jelaga menutup matahari  Jakarta

Teriakan para demonstran baku bicara

Tenggelamkan suara Majelis Hakim lewat pengeras suara

Satu demi satu terbata-bata

Membacakan vonis bagi sang terdakwa:

 

“Pertimbangan tuntutan Jaksa tak ada relevansinya

Pembelaan pengacara tak kuat argumennya

Pleidoi terdakwa tak jelas juntrungannya

Maka atas nama hukum & Tuhan Yang Maha Esa

Anda dinyatakan bersalah dan langsung masuk penjara!”

 

Palu Hakim Ketua diketok sudah

Dewi Keadilan sangsai dan lelah

(Di luar, para demonstran kian membuncah

Udara pengap, debu, dan asap campur amarah

Menyambut vonis Hakim tak bermarwah)

 

Tetapi sang terdakwa bergeming

Tak ada kesedihan, senyumnya tersungging

Suaranya datar mengajukan banding

Kepada pengacara dan para pendamping

Ia berbisik: “Jangan bimbang, jangan pusing!”

 

II

Ia tahu dirinya adalah domba

Untuk  korban perebutan kuasa

Di atas altar kepentingan segelintir elit agama

Disokong oligarki partai dan pengusaha

Menjadi sebuah sasaran antara

 

Kerna kuasa sudah seperti narkoba

Tafsir ajaran Tuhan pun direkayasa

Jadilah ia seorang penista agama

Permohonan maafnya tak lagi berharga

Hanya satu yang penting: “Masuk penjara!”

 

Kerna ia tak mau kompromi

Walau jutaan massa datang beraksi

Ia masih yakin dengan demokrasi

Yang ia perjuangkan semasa reformasi

Enggan bertekuk lutut di depan mobokrasi

 

Baginya pengadilan adalah satu-satunya jalan

Kalah dan menang, tidak menjadi urusan

Hanya di sana ia bisa ungkap kebenaran

Baik perkataan maupun perbuatan

Tanpa rekayasa, tanpa  kebohongan

 

Seperti kisah seorang filsuf agung

Socrates, sang pencerah ulung

Yang difitnah, diadili, dan dikurung

Ia dihukum minum racun dengan dakwaan lancung:

“Mengajar generasi muda berfikir adiluhung”

 

Baginya Gubernur adalah amanat

Agar dirinya menjadi pelayan rakyat

Memberantas korupsi, membabat praktik jahat

Di Balaikota, di Parlemen, di kantor Walikota  dan Camat

Menghadapi para politisi dan konglomerat

 

Maka lawan-lawannya pun setuju

Ia mesti dihentikan lebih dahulu

Membiarkannya berkuasa adalah keliru

Kerna akan menjadi momok pengganggu

Untuk meraih posisi nomor satu

 

III

Ia kini menjadi seorang tahanan

Sikapnya mantap tanpa keraguan

Sebuah konsekuensi keyakinan dan tindakan

Sebuah resiko seorang pimpinan

Dalam rentetan dialektika perjuangan

 

Malam pertama di bilik penjara

Sang Gubernur lebur dalam doa:

(Di luar para pendukung berunjuk rasa

Dengan lilin, balon, dan bunga

Orasi bersemangat dan janji prasetya)

 

“Tuhan berikanlah mereka ketabahan

Kerna aku tak lagi dalam barisan

Dan suaraku tak lagi menjadi teriakan

Balaikota bukan lagi arena perjumpaan

Antara diriku dan rakyat yang sarat persoalan

 

Semoga Engkau berikan kekuatan

Kepada mereka melanjutkan perjuangan

Melawan kebencian dan kelaliman

Berlindung di balik agama dan kekuasaan

Di bawah bendera permusuhan dan perpecahan

 

Tuhan,

Maafkanlah kesalahan hambaMu

Dan juga kesalahan mereka yang bersamaku

Berikan ketulusan dalam hati kami selalu

Dalam bekerja untuk negeri dan bangsaku

Amin..”

 

(Pagi itu sebuah karangan bunga

Teronggok di pintu jaga

Di pita putih tertulis kata-kata:

“Pak Gubernur, walau badan Anda di dalam penjara

Namun semangat Anda ada dimana-mana.”)

 

Pamulang, medio Mei 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *