Thursday, November 26

Mengkritisi Debat Perdana Pilpres 2019

Ilustrasi Foto: Jokowi-Maruf Amin  dan Praboro-Sandiaga Uno

Debat perdana calon presiden dan wakil presiden antara pasangan Joko Widodo dan Maruf Amin dengan Prabowo dan Sandiaga Uno, Kamis, 17/01, malam,  menjadi pusat perhatian banyak orang. Saling dialog dan konfirmasi ide ditunggu, meski dari rangkaian pendapat selama ini, sudah bisa diperkirakan konten yang akan disampaikan. Namun hal itu tetap berbeda mengingat dilaksanakan secara pribadi. Konfirmasi adalah kelebihan yang hanya bisa ditampilkan dalam debat.

Santai dan Tegang

Dari penyampaian visi misi, sudah terlihat keluwesan Prabowo-Sandi. Hal itu berbeda dengan Jokowi-Ma’ruf yang cukup tegang. Visi dan misi yang dibacakan saja dan kerap terasa apa yang dibacakan memiliki jeda yang tidak terlalu meyakinkan memperkuat hal itu.

Hal itu berbeda dengan Prabowo yang lebih ‘santai’. Visi dan misi dijelaskan dengan mengalir begitu saja. Yang disayangkan, momen yang sangat penting itu tidak dimanfaatkan Prabowo untuk menyampaikan keseluruhan program. Aspek negatif yang hadir, terlampau bersemangat sehingga lebih menekankan ‘sisi negatif’ (dengan menekankan beberapa contoh kecil) demi memengaruhi.

Ketegangan muncul saat Prabowo menyebutkan kasus di Jawa Timur yang mendukung Prabowo tetapi ‘diproses’. Selain itu ada contoh kecil. Model penyampaian kasus kecil seperti ini awalnya cukup menyudutkan. Tetapi kemudian diambil sebagai counter attact kasus ‘Ratna Sarumpaet’.

Dari jawaban itu terlihat gambaran muka Prabowo yang disertai ‘anggukan kecil’ Sandiaga. Momen yang digunakan cukup telak karena pada sesi itu hanya bisa ada tanggapan satu kali dari lawan. Lebih lagi, setelah selesai menyentil ‘operasi plasik’, bunyi lonceng tanda selesai.

Secara pribadi setelah mendengar jawaban itu, ‘nafsu’ untuk melanjutkan debat terasa hambar dan itu saya lakukan. Untung saja ada rekaman ulang, yang mendorong saya bisa mendengarkan kembali agar analisis seimbang.

Saling Melengkapi

Dari sisi kerjasama antarcalon, Prabowo-Sandi cukup banyak mendapatkan perhatian. Ide-ide ditanggapi dengan santai dan dalam kondisi dialog. Dalam beberapa kesempatan, Prabowo sempat berbisik (malah pijitan). Ini sebuah hunuju kerjasama.

Tetapi kesantaian itu bisa saja ‘kebablasan’. Penyebutan bahwa Jawa Tengah lebih luas dari Malaysia merupakan contoh ‘keseringan menekankan pembicaraan agar diperhatikan’ tanpa memperhatikan apakah hal itu benar atau tidak. Atau penyebutan bahwa peningkatan tax ratio demi peningkatkan gaji merupakan jalur logika yang tidak dielaborasi.

Sayangnya, kerap Prabowo-Sandi tidak menjawab pertanyaan secara tepat dan lebih fokus pada konsepnya dan mendapatkan perhatian dan diingatkan oleh Moderator. Banyak kali apa yang dikatakan tidak ditanggapi tetapi lebih fokus mengatakan apa yang jadi konsepnya.

Pada sisi lain, keseringan mengungkapkan contoh nyata, bisa saja menyapa karena konsep abstrak dikonfrontir dengan contoh nyata. Tetapi seorang pemimpin adalah orang yang bisa menarik kesimpulan dari ‘narasi-narasi’. Ia lebih bergerak pada sistem yang bisa bekerja, akan sanggup mencakup lebih banyak orang.

Kelemahan lain dari Prabowo (terutama Sandi), terlalu mengaitkan ujung dari semua masalah dengan ekonomi (terutama lapangan kerja). Memang pekerjaan menjadi kendala, tetapi permasalahan sosial seperti HAM bersifat multidimensional. Dengan demikian ia tidak bisa ditarik sebagai akar dari masalah ekonomi.

Ini berbeda dengan Jokowi-Ma’aruf. Terasa beban yang besar dalam diri Jokowi. Hal itu berbeda, andaikata Jokowi berpasangan Jusuf Kalla. Hal itu ditunjukkan juga dalam dominasi Jokowi yang mengindikasikan pemahaman masalah dan Ma’aruf yang lebih hadir sebagai ‘pelengkap’.

Waktu pada awal-awal debat dimana masih 30-an menit tersisa tetapi Ma’ruf hanya mengatakan “saya mendukung apa yang dikatakan Pak Jokowi” sebenarnya cukup disayangkan. Dalam debat, setiap menit sangat berharga dan hal itu dilewatkan begitu saja. Hal itu dengan segera memunculkan kesan bahwa Ma’ruf tidak memahami masalah yang disampaikan.

Yang menarik, momen langka yang diberikan ke Ma’ruf dimanfaatkan secara sangat maksimal. Pendapat yang terpotong tentang disabilitas dan kemudian tentang terorisme. Pendapat tentang terorisme dan upaya penanggulangan (bukan saja penanganan) merupakan pendapat yang sangat lugas dan jernih.

Yang disayangkan pada tahap ini, waktu tidak diberikan kepada Ma’ruf untuk ‘menanggapi’ apa yang disampaikan oleh Prabowo. Di sana ada ‘celah’ saat Prabowo mengangkat masalah Islam yang dipersalahkan. Dikatakan ‘celah’, karena Ma’ruf semestinya menanggapi bahwa yang menjadi kambing hitam itu adalah ormas agama manapun bukan saja agama Islam hal mana dijelaskan pada saat memberikan penjelasan tentang teorisme.

Kalau Ma’ruf sedikit lebih ‘nakal’, bisa menyentil agar agama Islam tidak perlu dipakai untuk mendapatkan dukungan. Kalau agama Islam mau kita pakai untuk mendapatkan ‘perhatian’ maka kita perlu menguji kadar keimanan atau kalau boleh dites kemampuan kita agar kelak jadi pemimpin yang tidak merugikan islam.

Atau pada saat bicara deradikalisasi, Ma’ruf perlu sedikit lebih ‘nakal’. Prabowo-Sandi selalu mengaitkan terorisme dengan kehilangan pekerjaan. Ma’ruf sudah mengulas secara baik bahwa ada banyak alasan, tidak saja ekonomi tetapi juga ada pemahaman yang salah.

Balik Menyerang

Argumen utama Prabowo tentang peningkatan penghasilan pejabat negara bisa disebut sebagai program kunci yang terus ditekankan oleh Prabowo-Santi. Hal ini menjadi penting karena penekanan tentang kurangnya penghasilan ditanggapi oleh Jokowi dengan penekanan bahwa gaji yang ada ditambahkan dengan tunjangan kinerja sudah cukup.

Tanggapan balik Prabowo dengan suara yang lebih rendah secara tidak langsung menunjukkan secara nonverbal akan masalah tersebut. Selain itu Prabowo menggunakan ‘e…’ (7x) yang menekankan bahwa sesungguhnya inti argument itu tidak dijawab dengan baik (dilemahkan). Dari sisi public speaking, pembahasan tentang korupsi yang muncul karena gaji rendah merupakan asumsi yang dilemahkan sendiri oleh Prabowo dengan ungkapan yang tidak meyakinkan.

Tema tentang perempuan dijawab dengan sangat menarik oleh Prabowo. Yang terpenting bukan soal perempuan atau laki-laki tetapi produk yang dihasilkan orang itu. Demikian juga tentang orang dari partai politik yang diangkat untuk menempati posisi penting dalam pemerintahan.

Tema ini semestinya dengan mudah ‘diselesaikan’ oleh Jokowi ketika masuk dan sedikit menyindir Prabowo yang tidak benci wanita tetapi lebih melihat kualitas. Momen ini yang tentunya ‘ringan’ tetapi menyentuh banyak orang. Sementara itu posisi orang dari partai politik atau tidak sebenarnya sama dengan perempuan atau tidak yang dijawab dengan baik oleh Prabowo.

Debat Berikut

Dari segi penampilan dan penampakan, harus diakui bahwa generasi milenial akan lebih mudah terpanah dengan Prabowo-Sandi. Sikap Sandi terutama yang ‘santun’, menyapa Jokowi dengan ‘Pak Presiden’ merupakan ekspresi yang luar biasa.

Sandi juga yang masih terus mencium Ma’ruf merupakan contoh yang sangat baik, selain laporan 1.000 titik yang bisa sangat menyapa. Meski demikian, ke depan, perlu diperhatikan agar contoh-contoh menyebut nama orang dengan kasus tertentu tidak bisa diangkat sebagai hal untuk memengaruhi kebijakan. Tugas seorang pemimpin adalah bagaimana memberikan solusi bukan individual tetapi lebih bersifat tersistem dan terstruktur yang dilakukan sebagai jalan keluar. Ia tidak akan bertindak secara terpisah.

Untuk Ma’ruf, perlu dilatih untuk menjadi lebih ‘rileks’ dan ‘santai’, sambil terlatih menjadi politisi yang menyampaikan ide-ide berat tetapi dengan gurauan yang sedikit ‘politis’. Ia bukan lagi ‘kiai’ tetapi sekarang seorang politisi. Dengan demikian, perlu diberi bagian yang lebih besar untuk berperan mengingat kehadiran yang lebih diam bisa menjadi bomerang karena hanya dianggap sebagai pelengkap saja.

Meski demikian, ‘so far so good’. Dari beberapa intervensi, terbukti bahwa Ma’ruf tidak sekadar bicara. Ia diam dan menyatakan pas kalau memang itu pas. Ia tidak sekadar ‘berbicara’, hal mana bisa saja menjadi kelemahan Prabowo. Dalam banyak pembicaraan, Prabowo justru melakukan yang sebaliknya dimana ia mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan dan diam pada momen dimana seharusnya ia diam, hal mana perlu berhati-hati lagi dalam debat berikutnya.

Dari sisi konten, harus diakui, program kerja yang disampaikan oleh Jokowi-Ma’ruf lebih bernas ketimbang Prabowo-Sandi. Bagi orang yang fokus pada penyampaian program kerja akan memiliki kesimpulan dan pilihan yang jelas yakni Jokowi-Ma’ruf.

Semuanya akan kembali kepada pemilu.

(Robert Bala, 18 Januari 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *