EDITORIAL – Debat Capres-Cawapres dan Sikap Cerdas Pendukung

Ilustrasi: Paket Calon No. 01 dan Nomor: 02

Hari-hari ini bangsa Indonesia sedang menanti-nantikan acara Debat Perdana Calon Presiden-Calon Wakil Presiden yang bakal digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU). Agenda ini sebenarnya biasa saja dan lazim di panggung kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres). Yang membuat event ini menjadi “berbeda” adalah suasana perang psikologis diantara pendukung masing-masing kubu, yakni kubu petahana Jokowi-Ma’ruf Amin dan kubu penantang Prabowo-Sandiaga Uno, sebelum memasuki debat perdana pada Kamis 17 Januari 2019. Debat perdana yang akan ditayangkan ‘live’ oleh jaringan televisi nasional ini, sedianya digelar di Hotel Bidakara, bilangan Pancoran-Jakarta Selatan.

Apabila dicermati secara seksama, semenjak kedua pasangan Capres-Cawapres ini dideklarasikan oleh partai-partai pengusung, maupun sejak ditetapkan oleh KPU, perang psikologis antara para pendukung kedua kubu di ranah media sosial (medsos), ibaratnya seperti air bah yang membawa aneka-macam rongsokan dan atau kotoran. Saling sindir, caci-maki, atau bahkan sumpah-serapah diantara para pendukung kedua kubu, serta-merta melumerkan karakter asli bangsa Indonesia. Telah lama bangsa Indonesia dikenal di seantero dunia sebagai bangsa yang ramah dan punya tenggang rasa sosial yang tinggi.

Akibat ketidakmampuan menerapkan “budaya politik yang santun dan bermartabat”, maka kedua kubu pendukung Capres-Cawapres saling menghakimi dengan dua sebutan —yang kendati terkesan hina untuk dilekatkan kepada manusia sebagai makhluk paling sempurna ciptaan TUHAN, tetapi begitu populer di ranah medsos— yakni ‘kampret’ dan ‘cebong’. Satu pihak ‘meng-kampret-kan’ lawannya, sebaliknya pihak lain ‘men-cebong-kan’ lawannya pula.  Kebiasaan buruk saling serang antara kampret versus cebong, atau sebaliknya cebong melawan kampret ini, bila ditelisik lebih jauh mulai terjadi pasca Pemilu 2014, dan kian memuncak di momen Pilpres 2019, lantaran capres idola dari masing-masing kubu pendukung naik panggung bertanding kembali.

Dari perspektif komunikasi moderen, kehadiran medsos memang semakin mempercepat akses sekaligus pertukaran informasi diantara para penggunanya. Apalagi setiap pemilik akun medsos cenderung bertindak seperti jurnalis yang mewartakan berita apa saja. Mereka yang berprofesi sebagai jurnalis sesungguhnya (baca: wartawan), mewartakan suatu berita berdasarkan fakta dengan berbagai prasyarat ketat yang mengikutinya antara lain prinsip 5W1H dan “cover both sides” (konfirmasi dua pihak), lebih-lebih untuk berita-berita yang bernuansa kasus.

Walaupun wartawan memberitakan berita berdasarkan fakta, di dalam dunia jurnalistik berlaku pula adagium filosofis bahwa “tidak semua fakta dapat diberitakan”. Apa maksudnya? Kalau suatu fakta bisa menimbulkan perpecahan sosial yang akut di tengah masyarakat, misalnya manipulasi atau politisasi terhadap SARA (suku, agama, ras, dan antar-golongan), kenapa harus diberitakan? Jika suatu fakta bersentuhan dengan privasi seseorang yang tidak punya manfaat apaun bagi kepentingan umum, misalnya berita-berita berbau gosip, untuk apa diberitakan? Apabila ada fakta yang bisa memicu disintegrasi nasional, buat apa harus diberitakan sebagai berita arus utama? Fakta-fakta yang tidak harus diberitakan ini bukan berarti identik dengan sikap masa bodoh, melainkan langkah-langkah penyelesaiannya dapat ditempuh secara tertutup dan beradab demi kebaikan umum.

Memasuki momen debat perdana Capres-Cawapres pada Kamis 17 Januari 2019, pertanyaan pun muncul, bagaimana para pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno harus bersikap? Baiklah para pendukung kedua pasangan Capres-Cawapres menyimak dengan sungguh-sungguh pemikiran dan konsep (visi-misi) dari kandidat, mencernanya secara kritis, dan menanggapi dengan sikap yang elegan di medsos. Dengan bekal sikap seperti itulah, maka setiap individu pendukung memiliki peluang untuk meyakinkan kepada para pemilih yang belum menentukan sikapnya (swing voters)  dan massa mengambang (floating mass), agar mau memilih kandidat Capres-Cawapres yang didukungnya. Sikap pendukung seperti ini, selain cerdas dan elegan, juga bisa menjadi lahan subur bagi bertumbuh-kembangnya budaya politik yang santun dan bermartabat di negeri ini.

Baiklah masing-masing kubu pendukung Capres-Cawapres mengambil kesadaran posisi untuk memulai dan membiasakan model komunikasi politik yang santun dan bermartabat, sehingga budaya politik dan budaya berdemokrasi nasional kita pun dapat lahir sebagai model demokrasi yang khas karakter kolektif dari bangsa Indonesia. Sejatinya, politik  yang santun dan bermartabat ini benih-benihnya secara sosial telah lama bertumbuh, mengacu pada keteladanan berdemokrasi para politisi di era awal kemerdekaan Indonesia, yang sebagian kecilnya merupakan bagian dari generasi Para Pendiri Bangsa. Mereka, para politisi generasi awal kemerdekaan ini, mampu menempatkan “relasi kemanusiaan” melintasi sekat-sekat ideologi politik kelompok atau politik aliran, bahkan dalam relasi antar-personal mereka dalam ranah sosial-kemanusiaan.

Menyambut momen debat perdana Capres-Cawapres, dan debat-debat selanjutnya seturut regulasi KPU, baiklah para pendukung kedua kubu Capres-Cawapres berhenti untuk saling mengolok-olok dengan cara yang tidak elok atau vulgar, diantaranya seperti ucapan ‘kampret’ dan ‘cebong’ yang terlanjur nyaring bergema di dunia medsos selama ini. Kebiasaan mengolok-olok dan  menghina orang lain yang adalah sesama warga bangsa sendiri dan lebih-lebih sebagai sesama manusia, merupakan penjelmaan dari sikap yang tidak santun dan tidak bermartabat. Sikap buruk seperti ini bertentangan dengan keramahtamahan sebagai karakter asli bangsa Indonesia. Lebih dari itu, sikap buruk tersebut telah mendegradasikan esensi kodrati manusia sebagai makhluk hidup paling sempurna di bumi yang diciptakan oleh ALLAH, TUHAN Yang Mahakuasa, Sang Penguasa Langit dan Bumi! ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *