Ketika Pimpinan SOKSI Mengetuk Palu Sidang…“Mikael Mali pun Sah Ketua Harian SOKSI DKI”

Mikael Mali, SE, SH, MH

Dalam deretan riwayat kisah hidup, hari itu adalah dinamika yang nyata hadir. Dalam  Forum Rapat Pleno Depidar SOKSI siang-sore, Jakarta, Senin, 7/01/2019, menjadi satu dari sekian potret kesunyian diri yang terwujud dalam nyata. Ketika Plt. Ketua Depindar SOKSI DKI Jakarta Erwin Ricardo Silalahi mengetuk palu sidang, sesaat setelah pleno secara aklamasi menyepakati  Mikael Mali ditetapkan sebagai Ketua Harian Depidar SOKSI DKI. “Dengan ini kita sepakat untuk menetapkan Saudara Mikael Mali, SE, SH, MH menjadi Ketua Harian Depidar SOKSI DKI, Jakarta.” Palu sidang pun diketuk tiga kali dan sah!

Dia, Mikael Mali, perlahan mengangkat wajah dan berdiri. Disambut tepuk tangan dan applause peserta rapat pleno, lalu dia pun tersenyum. Terlihat, dalam sikap dan senyumnya, ada cukup banyak makna yang sulit dijelaskan dengan kata. Memandang hadirin yang memberinya applause, dari meja pimpinan sidang, seperti ada terselip seribu bait cerita panjang dari balik senyum itu. Dan penulis sendiri pun harus mengakui kalau tak cukup lihai memilih diksi yang tepat dalam menarasikan, untuk mendeskripsikan bingkai senyuman lumayan langka ini.

Dari meja pimpinan, Mikael Mali, dengan senyum yang diam itu, seakan merekonstruksikan kembali ziarah panjang perjalanan hidupnya hingga saat ini. Aneka suka dan duka yang tak terelakan, juga berkat yang selalu kunjung datang ketika niat dan keikhlasan bisa selalu diberi. Dan sejak hari itu, ada tugas dan tanggungjawab yang kini harus diemban oleh ayah dari dua putra: Paskalis A. Dala Mali  dan Lazarus F. Ndopo Mali serta suami dari Gaudensia Sovia Wunu, ini.

Rapat Pleno ini dihadiri Ketua Depinas SOKSI, Ali Wongso Sinaga dan disaksikan jajaran pimpinan organisasi Tri Karya, sejumlah pimpinan Depinas SOKSI, DPP dan DPD Partai Golkar. Dihadiri seluruh utusan Dewan Pimpinan Cabang (Depicab) dari seluruh wilayah DKI Jakarta (Pusat, Selatan, Barat, Utara, Timur, dan Kepulauan Seribu), dengan agenda revitalisasi kepengurusan Depidar dan konsolidasi organisasi.

Ikut terlibat dalam momen saat itu, penulis jadi teringat sebuah obrolan pertemanan sambil minum kopi bareng, di suatu sore, beberapa waktu lalu. Dia bertutur sedikit tentang jalan hidupnya. Sejak tamat SD, sebagai anak orang kampung dari pelosok jauh, di Ende, Flores, NTT hingga saat ini sudah 30-an tahun melakoni hidup sebagai orang Jakarta. Sejak tamat SD di kampungnya, Ranggatalo, dia sudah dikirim orangtua untuk melanjutkan SMP di kota. Agaknya itulah sebuah momentum yang menentukan bagi perjalanan hidup selanjutnya, bahkan mungkin sampai saat ini.

Waktu itu, bapa dan mama bilang, “Kamu harus sekolah. Harus sekolah di sekolah yang bagus di kota. Harus tinggal di asrama pastoran supaya nanti bisa menjadi orang yang baik. Sekolah sampe doktorandus (istilah yang sering dipakai orangtua masa itu untuk menjelaskan pendidikan dan gelar paling tinggi di NTT tahun 1970-an),” tuturnya lirih mengulangi pesan orangtuanya. Perlahan dia mendongakan wajahnya ke atas, lalu diam sesaat. Boleh jadi, dalam hati kecilnya, sepenggal cerita itu seperti menyingkap lagi segenap ingatan masa lalu, yang selama ini masih tersimpan rapih di benaknya. Dan ketika bertutur tentang pesan dari kedua orangtuanya, memori alam bawa sadarnya seakan kembali dieksplorasi.

Jelas, hingga hari ini, dari “anak orang kampung” di pelosok jauh, desa Ranggatalo, di Ende, Flores, itu telah meletup spirit perjuangannya untuk terus meraih mimpi seperti pesan bapa-mamanya dulu. Dia seperti selalu “haus” dengan urusan sekolah. Usai meraih sarjana ekonomi, mengambil lagi kuliah hukum lalu melanjutkan kuliah S2 Huukum di Universitas Jayabaya dan meraih Master Hukum (MH) setahun berselang. Selaras dengan itu, setelah sekian lama menekuni profesi di sejumlah perusahaan ternama, pelan tapi pasti dia mulai merintis usaha sendiri di bidang jasa keuangan dan perpajakan, konsultan hukum dan beberapa usaha lainnya.

Mikael Mali bersama Pimpinan Soksi di Meja Pimpinan Sidang Rapat Pleno

 Dari Aktivis  Buruh Hingga Menjadi Ketua Serikat Buruh 

Boleh jadi kepercayaan yang diberikan hari ini sebagai Ketua Harian DPD SOKSI DKI Jakarta ini adalah jalan lain yang harus dilakoni seorang Mikael Mali untuk kembali lagi ke habitatnya dulu. Sejak muda mahasiswa, Mikael sudah jadi aktivis buruh. Terjun dan terlibat bersama buruh di sentra-sentra buruh. Ketika itu dia terlibat dalam kegiatan Yayasan Buruh Membangun. Diturukan, sejak tahun 1992 dia aktif di lembaga ini, sebuah lembaga pengkaderan buruh, untuk mendidik para pemimpin buruh.

“Ada pembina dan instruktur buruh yang selalu siap membina dan mengarahkan kami. Dilengkapi modul-modul pembinaan segala,” ujarnya, tapi enggan menyebut dari akses dan jaringan mana fasilitas itu diperoleh.

Dikisahkan pula, di lembaga ini ada kegiatan rutin dan reguler. Setiap hari Sabtu dan Minggu, kami selalu ada kegiatan di sentra-sentra buruh. Kami hidup bersama, berbaur bersama buruh. Bangun tidur dengan para pekerja di sentra-sentra buruh di Jabodetabek. Tapi, lewat aktivitas di lembaga ini, para buruh bisa difasilitasi dan selang beberapa tahun sesudahnya, aksi nyata itu membuahkan hasil maksimal. Gerakan buruh jadi isu utama di tingkat negara. Strateginya adalah merekrut para pekerja di sentra-sentra buruh, di pabrik-pabrik.

“Orang-orang yang harus kami rekrut adalah orang-orang kunci pada temppat kerja mereka di pabrik-pabrik. Seperti bagian kepegawaian, keuangan, produksi, ekspor, bagian listrik. Di unit-unit kerja itulah bagian paling strategis bagi perjuangan kepentingan tenaga kerja. Sehingga kami bisa dapat data, berapa tenaga kerja, berapa keuntungan perusahaan setiap bulan lalu berapa gaji yang harus diterima sebagai upah kerja sebulan,” tuturnya.

“Kami juga harus tahu berapa besar produksi bulanan, berapa nilai ekspor untuk bisa paham omset perusahaan setiap bulan. Tak lupa, kami juga harus tahu dimana posisi panel-panel listrik jika sewaktu-waktu, bilamana perlu, sabotase pabrik terpaksa jadi skenario terakhir. Semua itu diarahkan untuk jika keadaan tertentu, kami harus bisa menggerakan buruh menuntut hak-hak mereka, saat harus berhadapan dengan pemilik perusahaan,” ceritanya lebih lanjut.

Kegiatan ini terus dijalani hingga memasuki dunia kerja. Ketika itu, Mikael mengaku dipercayakan menjadi pimpinan Unit Kerja PT. Perfecta Nusa dengan sekitar 700 buruh. Di tengah kesibukan kerja, aktivitasnya di lingkungan buruh tidak surut, bahkan terus bertambah berhadapan dengan momentum sosial politik yang makin memanas di awal tahun 1990-an saat itu. Dengan aktivitas dan kegiatan bersama buruh, lalu membuka cakrawala dan kesadaran lebih lanjut. Menghadirkan dalam diri  kepedulian terhadap nasib dan masa depan para tenaga kerja itu.

“Buru harus dibangun dan disadarkan tentang hak-hak dasar yang musti diperoleh mereka. Tapi untuk itu mereka harus dibantu. Mereka harus disadarkan agar berani bersuara, berani menuntut hak-hak dasar mereka,” tandasnya agak gregetan.

Kepedulian itu menjadi momentum kesadaran lebih lanjut, bahwa buruh harus punya organisasi, buruh harus punya lembaga sebagai tempat berkumpul, berdiskusi dan berdialog antar mereka. “Kepentingan buruh harus diakumulagi agar bisa lebih berdaya. Buruh harus bersatu supaya bisa keluar dari jerat kekuasaan dan penjara kapital yang terus menghisap keringat dan air mata para buruh.”

Untuk mencapai idealisme perjuangan itu, Mikael bersama teman-temannya kemudian mendirikan Serikat Buruh Membangun,  sebagai elemen gerakan strategis. Sebuah lembaga pemberdayaan para buruh, lebih dari  itu, sebagai lembaga seminasi aktivis buruh. Di lembaga ini mereka dibina dan sekaligus membina sesama rekan tenaga kerja di unit kerja mereka masing-masing.

Dan ketika dia dipercayakan menjadi Ketua Harian DPD SOKSI DKI Jakarta, seorang Mikael Mali, seakan kembali menemukan arah jalan yang dulunya pernah dilewatinya dengan sangat akrab. Kini, organisasi yang ikut dipimpinnya di DKI itu, SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) sejatinya merupakan sebuah elemen gerakan. Sebuah movement, organisasi pergerakan yang sejak berdirinya di awal tahun 1960-an, menandaskan visi dan misinya terhadap kemajuan dan kesejahteraan tenaga kerja. Tampaknya, sekali lagi, bagi seorang Mikael Mali, memimpin organisasi seperti ini adalah sebuah lahan pengabdian yang pas untuk mendaratkan kembali idealisme heroiknya di masa muda,  setelah cukup lama terpendam. (Stanis Soda Herin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *