Refleksi Akhir Tahun 2018 Ormas Katolik, “Belajar Dari Masa Lalu Meretas Untuk Masa Depan”

Ormas Katolik. (Foto: Ist)

Jakarta, BERSIH.ID — Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Katolik yang terdiri dari Pengurus Pusat Perhimpunan Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pengurus Pusat Pemuda Katolik (PK), Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Sekretariat Nasional Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) mengeluarkan Refleksi Akhir Tahun 2018, pada Senin (31/12/2019). Berikut isi refleksi yang diberi judul “Belajar Dari Masa Lalu Meretas Untuk Masa Depan”:

“Indonesia adalah karunia Illahi yang diberikan pada rakyatnya. Negara kepulauan dengan lebih dari 265 juta jiwa dan tersebar di sekitar 17.504 pulau dari Sabang hingga Merauke. Terdiri dari berbagai suku, adat istiadat, ras, bahasa, agama, kepercayaan  dan kearifan lokal yang sangat beraneka ragam. Kebhinnekaan adalah modal dasar sekaligus keniscayaan bagi bangsa ini. Persatuan dan kesatuan menjadi konsensus kebangsaan yang harus terus dirawat.

Tahun 2018 merupakan tahun politik, karena di tahun ini tahapan awal semua orang yang merasa terpanggil mencalonkan diri baik sebagai calon eksekutif maupun legislatif memulai seluruh langkahnya. Puncak gelaran ini adalah Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden serta anggota legislatif secara serentak pada Rabu, 17 April Tahun 2019.

Menjadi catatan, pemilihan presiden dan wakil presiden kali ini adalah pemilu yang sangat menguras energi dan perhatian seluruh masyarakat. Tahapan Pemilu yang sudah dimulai sejak awal 2018. Lamanya proses tahapan Pemilu 2019 disatu sisi menjadi tahapan ideal untuk melakukan sosialisasi bagi para kontestan. Namun disisi lain bisa menjadi kontraproduktif dalam kehidupan berbangsa bila tidak dikendalikan secara benar.

Ormas Katolik menghimbau kepada seluruh masyarakat, untuk meluangkan waktu sejenak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 17 April 2019.  Gunakan hak pilih kita dengan sikap kritis, nalar jernih dan penuh rasa tanggung jawab. Pemilu adalah peristiwa demokrasi 5 tahunan yang harus dikawal bersama. Jangan jadikan pemilu menjadi segala-galanya, yang justru malah bisa membuat perpecahan bangsa. Pemilu adalah kompetisi program dari seluruh anak bangsa bukan peperangan melawan  musuh.

Tahun 2018, kita telah memasuki tahapan Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan berkembangnya teknologi digital dan sosial media secara massif. Akibatnya banyak industri kreatif bermunculan dimotori oleh generasi milenial yang kreatif dan optimistis. Namun disaat bersamaan kita dihadapkan pada tantangan dengan maraknya berita fitnah, ujaran kebencian dan berita bohong yang membahayakan persatuan dan eksistensi kebangsaan kita. Berkaitan hal tersebut, maka penegakan supremasi hukum harus dilakukan dengan tegas. Bahwa hukum ada untuk meningkatkan rasa kemanusiaan, keadilan sosial dan menjaga persaudaraan sejati.

Negara Indonesia dibangun diatas berbagai nilai-nilai kearifan lokal bangsa Indonesia, kearifan lokal ini bersumber dari budaya dan adat istiadat bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh suku bangsa yang berhasil dirangkum dalam rumusan Pancasila. Oleh karena itu penting untuk mengkaji, merevitalisasi dan mengimplementasikan kembali berbagai nilai-nilai kearifan lokal ini sebagai sumber perekat pemersatu bangsa Indonesia. Upaya ini penting dilakukan sebagai upaya membendung maraknya gerakan radikalisme dan pudarnya semangat nasionalisme.

Tahun 2018 kita juga melihat gencarnya pembangunan infrastrukur diseluruh wilayah Indonesia. Terlebih diakhir tahun ini bangsa Indonesia mendapatkan 2 kado yaitu berupa dibukanya tol Trans Jawa dan keberhasilan mengambil alih PT Freeport Indonesia dari tangan perusahaan asing. Hal ini harus kita apreasiasi namun tidak kalah penting juga harus dilakukan pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan yang seimbang dan berkesinambungan. Pendidikan memang tidak hanya dititikberatkan pada meningkatkan keahlian teknis teknologi dan penguasaan ilmu pengetahuan saja, melainkan juga pendidikan harus mampu membentuk karakter peserta didik dengan kesadaran sebagai warga negara Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila ditengah-tengah masyarakat bangsa yang berbhinneka.

Terakhir..

Berbagai peristiwa dan bencana kemanusiaan telah terjadi di 2018. Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Lombok (NTB), Palu (SulTeng), Banten dan Lampung hendaknya dimaknai sebagai “sapaan kasih” Sang pencipta agar kita bisa melakukan instrospeksi diri. Menundukkan diri sejenak dalam kelemahan sebagai manusia. Melalui peristiwa ini hendaknya kita sebagai anak bangsa semakin memperkuat empati dan solidaritas kemanusiaan. Solidaritas anak bangsa yang dibangun dengan menghilangkan segala bentuk sekat kepentingan golongan, politik, etnis dan agama.

Indonesia ini adalah rumah kita bersama. Oleh karena itu menjadi bagian kita masing-masing untuk menjaganya dari kerusakan-kerusakan akibat egoisme kita sendiri. Berbagai peristiwa yang telah terjadi pada bangsa ini selama satu tahun terakhir, hendaknya menjadi kekuatan sekaligus bahan pembelajaran yang baik untuk kita melangkah kedepan. Setiap langkah yang dilakukan adalah torehan sejarah perjalanan bangsa ini. Tahun 2019 haruslah menjadi “Tahun Penuh Harapan”. Karena masa depan hanya bisa diretas dengan harapan dan optimisme.

Jakarta, 31 Desember 2018

Pengurus Pusat  Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)

Juventus Prima Yoris Kago (Ketua Presidium)

Pengurus Pusat Pemuda Katolik (PK)

dr Karolin Margret Natasa (Ketua Umum)

Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI)

Justina Rostiawati (Ketua Presidium)

Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA)

Hargo Mandirahardjo (Ketua Presidium)

Sekretariat Nasional Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI)

Veronica Wiwiek Sulistyo (Sekretaris Nasional). (Very)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *