Jonan Pantau Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau

Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan memantau langsung Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang Provinsi Banten, Jumat (28/12). (Foto: Ist)

Serang, BERSIH.ID — Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan memantau langsung Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang Provinsi Banten, Jumat (28/12). Jarak pos pengamatan dengan Gunungapi Anak Krakatau sekitar 42 km.

Sejak ditetapkan menjadi level III (SIAGA) pada 27 Desember 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM.

Jonan menegaskan bahwa peningkatan status ini didasarkan pada hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental. “Perkembangan setiap menit dipantau dari sini,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/12).

Kunjungan Menteri Jonan ke Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau ini untuk memantau bahwa alat-alat berfungsi dengan baik dan maksimal. Sekaligus memberikan semangat kepada petugas jaga di Pos Pengamatan ini.

Pada kunjugan kerja tersebut Menteri Jonan didampingin Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar, Bupati Serang Ibu Hj. Ratu Tatu Chasanah dan Dandim 0633 Cilegon Lettkol Rico Sirait serta Direktur Regional PT. PLN Jawa Bagian Barat Hariyanto WS.

Peralatan yang tersedia di pos pengamatan, antara lain berupa penunjuk arah mata angin untuk memonitor pergerakan abu vulkanis. Lalu CCTV untuk memantau secara visual gunung, infrasonik dan seismograf sebanyak dua buah dengan dua jenis keakuratan yang ditempatkan di Pulau Sertung.

Sementara seismograf yang terletak di Pulau Gunung Anak Krakatau terdampak aktivitas vulkanik tanggal 22 Desember 2018, akan segera dipasang lagi pada dua titik di pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.

Pemasangan itu menunggu kondisi cuaca dan aktivitas gunung api yang memungkinkan. Seismograf tersebut mengalami tiga kali pergantian sejak meningkatnya aktivitas gunung Anak Krakatau Juli 2018 karena beberapa kali terkena dampak erupsi.

Jonan menjelaskan, aktivitas Gunung Anak Krakatau yang besar sekitar bulan September lalu. Dibandingkan dengan bulan Desember ini relatif lebih kecil sekitar seperempatnya.

“Masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 km dari kawah. Saat hujan abu turun, masyarakat agar mengenakan masker dan kacamata bila beraktivitas di luar rumah,” ungkap Jonan.

Terkait jalur penerbangan, Jonan menyebut masih bersifat aman. Sebab ketinggian abu sekitar 500-700 meter sedangkan penerbangan 5000-10.000 meter.

“Kementerian ESDM akan terus berkordinasi dengan BPPT, LIPI dan BMKG untuk mempelajari tsunami kemarin akibat karena apa saja. Terkait sharing pengetahuan dan informasi, termasuk dengan negara-negara lain seperti Amerika, Jepang, Perancis, karena kegeologian bersifat global,” pungkas Jonan. (Very)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *