EDITORIAL – Penembakan Brutal di Nduga yang Menggemparkan Republik

Foto: Ilustrasi

Belum hilang dari ingatan kolektif kita sebagai bangsa akan beberapa peristiwa tragis yang menguras dukalara, diantaranya bencana gempa-tsunami, pesawat komersil Lion JT 610 yang ‘terjun bebas’ ke dasar lautan gelap, banjir dan angin puting beliung di sejumlah daerah, kini kita semua dikejutkan lagi oleh peristiwa penembakan belasan warga sipil di Kabupaten Nduga-Papua, yang serta-merta menggemparkan republik ini, Selasa (4/12/2018). Warga sipil itu merupakan pekerja-pekerja proyek pembangunan jembatan sebagai sub-sistem Trans Papua, di wilayah Kabupaten Nduga. Ibaratnya, pusara para korban dari berbagai bencana itu masih basah, kini kita mesti menggali lagi pusara untuk korban-korban penembakan Nduga.

Insiden penembakan di Nduga ini boleh kita sebut sebagai ‘bencana kemanusiaan’ paling brutal, sebab warga sipil yang sedang bekerja membangun infrastruktur jalan untuk membuka isolasi transportasi di Papua, justeru ditembak mati begitu saja oleh sekelompok orang, yang oleh negara diidentifikasikan sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Para pekerja sipil di bawah bendera PT Istaka Karya itu, sejatinya sedang bergulat dengan pekerjaannya, tidak saja untuk mencari sesuap nasi, namun lebih mulia dari itu adalah terpanggil nuraninya untuk membuka isolasi fisik daerah Papua yang sudah begitu lama terjadi.

Menyikapi insiden penembakan Nduga, Presiden Jokowi memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk mengatasi ulah KKB di Nduga. Kepala Negara menginstruksikan Polri dan TNI “mengejar” dan “menangkap” komplotan KKB. Perintah Kepala Negara itu memberi pesan bahwa pasukan gabungan Polri dan TNI dapat menangkap  hidup-hidup komplotan KKB, agar dapat ditelisik motif sebenarnya dari aksi penembakan brutal tersebut. Sedangkan menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan tidak ada negosiasi dengan komplotan KKB. Bagi Ryamizard, pilihan untuk komplotan KKB tersebut hanya ada dua; menyerahkan diri atau “diselesaikan”!

Tidak berhitung hari pasca kejadian penembakan di Nduga, Panglima TNI Hadi Tjahjanto bahkan telah terjun langsung ke Papua, untuk mengawasi dari dekat operasi tim gabungan dalam hal evakuasi jenazah dan penyelamatan para pekerja yang masih hidup. Sementara itu, Kapolri Tito Karnavian memastikan ada 20 orang menjadi korban dalam insiden penembakan di Nduga, 19 orang warga sipil yakni pekerja PT Istaka Karya, dan seorang lagi personel TNI yakni Sertu Anumerta Handoko. Sejauh ini, pasukan gabungan telah berhasil mengevakuasi 16 jenazah pekerja yang mati ditembak, selain empat pekerja yang masih hidup karena berhasil lolos dari kelengahan komplotan penembak. Keempat pekerja itu berpura-pura ‘sudah mati’ setelah terkena tembakan, padahal mereka sejatinya sedang menahan perih akibat luka tembak. Mereka  pun berhasil lolos setelah mengecoh komplotan KKB di tempat kejadian perkara (TKP).

Kuat dugaan, aksi brutal penembakan ini merupakan ulah dari KKB pimpinan Egianus Kogoya diduga menjadi dalang pembantaian brutal ini. Polri dan TNI memang mensinyalir bahwa kelompok Kogoya sering melakukan aksi penyerangan sporadis untuk mengacaukan keamanan Papua. Merujuk pada pemberitaan media masssa, Wakapendam XVII/Cendrawasih Letkol Inf Dax Sianturi menjelaskan, Kogoya memiliki banyak catatan kriminal dan memimpin kelompok yang bertentangan langsung dengan keutuhan NKRI. Beberapa waktu sebelum insiden Nduga, kelompok Kogoya melakukan penyerangan terhadap lapangan terbang di Kenyam, ibukota Kabupaten Nduga. Dalam insiden itu, satu pilot Trigana Air terluka, empat orang yang terdiri dari dua orang anak dan kedua orangtuanya tewas dibunuh, serta dua orang terluka.

Benarlah adanya sinyalemen Polri dan TNI perihal manuver dari KKB pimpinan Kogoya. Melalui sambungan telpon ke beberapa media, Sebby Sambom, yang mengklaim dirinya sebagai juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), telah memastsikana bahwa kelompoknya bertanggung jawab atas pembunuhan pekerja dan prajurit TNI di Nduga. Merujuk pada catatan “Papuan Behind Bars”, Sebby adalah penduduk asli Wamena, Papua. Sejak 2008 hingga 2011, dia berulangkali ditahan dan dipenjara. Sebby dikenal pula sebagai aktivis yang vokal mengampanyekan kemerdekaan Papua. Pada tahun 2009, Sebby terang-terangan mendukung peluncuran Parlemen Internasional untuk Papua Barat (IPWP) di London.

Sebby mengklaim sudah berkoordinasi dengan Panglima Daerah Militer Makodap III TPNPB-OPM Ndugama Egianus Kogoya dan komandan operasinya yang bernama Pemne Kogoya. Kedua nama belakang mereka kerap disebut Kogoya.  “Panglima Daerah Tentara Pembebasan Nasional Papaua Barat (TPNPB) Makodap III Ndugama Tuan Egianus Kogoya menyatakan bertanggung jawab terhadap penyerangan Zipur [Zeni Tempur atau istilah mereka TNI] pekerja Jembatan Kali Aurak, Kali Yigi dan, Pos TNI [Yonif 755/Yalet] Distrik Mbua,” demikian bunyi rilis Sebby, sebagaimana diposting Tirto.id.

Menghadapi kemelut keamanan di Nduga, kita harus percaya bahwa otoritas tertinggi pemerintahan di republik ini, yakni Presiden/Kepala Negara melalui perpanjangan tangannya yakni Polri dan TNI, akan mampu menangani kemelut tersebut dengan tuntas. Penyelesaian insiden memang harus cermat betul, tidak hanya sudut pandang keamanan saja yang dilihat, tetapi ditelisik menurut aneka perspketif; yakni perspektif ideologis, geopolitik,  teritorial, lebih-lebih lagi perspektif psiko-sosial. Harus dicermati dengan sungguh-sungguh bahwa akar persoalan keamanan di Papua, sejatinya adalah persoalan kesejahteraan!

Kendati insiden penembakan brutal Nduga menyisakan efek traumatis pada warga lokal, tetapi negara tetap harus hadir untuk terus memacu kemajuan pembangunan di Papua. Kita sepakat dengan pernyataan Presiden Jokowi bahwa pemerintah tidak akan mundur selangkah pun untuk terus memacu pembangunan Papua! Sembari memberikan motivasi kepada pemerintah dan seluruh warga Papua untuk terus maju membangun Papua, baiklah sebagai bangsa religius, kita semua mendoakan agar bangsa Indonesia yang besar dan majemuk ini selalu beroleh perlindungan dari ALLAH, TUHAN Yang Mahakuasa, Sang Penguasa Langit dan Bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *