EDITORIAL – Disorientasi Sosial dan ‘Homo Homini Lupus’

Gambar ilustrasi, sumber: AntaraNews.Com

Hari-hari ini, melalui media massa, kita menyaksikan aneka peristiwa pembunuhan dengan beragam motif, dan juga modus operandinya. Ada motif sakit hati dan balas dendam kepada korban, desakan kebutuhan ekonomi dan menguasai harta milik korban, atau motif lainnya. Yang mencengangkan, ada peristiwa pembunuhan yang juga dilatari oleh perbedaan pilihan atau preferensi politik dalam momentum pilpres. Kasus-kasus pembunuhan yang menghebohkan itu terjadi hanya dalam satu bulan berjalan, yakni bulan November ini.

Sebut saja peristiwa pembunuhan sadis terhadap satu keluarga pada medio November lalu; Diperum Nainggolan/38 tahun (suami), Maya Boru Ambarita/37 tahun (isteri), Sarah Boru Nainggolan/9 tahun (anak pertama), dan Arya Nainggolan/7 tahun di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Kota Bekasi. Pembunuhnya adalah Haris Simamora/30 thn, yang ternyata sepupu dari korban Maya Boru Ambarita. Motif pembunuhan sadis ini konon akibat rasa sakit hati dari pelaku pembunuhan, Haris Simamora.

Ada juga kasus mayat dalam drum/tong, yang ditemukan di sebuah lahan kosong di kawasan Bogor, Jawa Barat. Ternyata itu adalah mayat seorang mantan jurnalis bernama Abdullah Fithri Setiawan/43 tahun. Dufi, begitu Abdullah Fithri biasa disapa, ternyata dibunuh oleh sepasang suami isteri yang ‘dikenal’ melalui komunikasi di medsos. Motif pasangan suami-isteri pembunuh Dufi adalah untuk menguasai harta (mobil) korban.

Tak berselang lama dari dua kasus pembunuhan yang menghebohkan itu, muncul lagi kasus mayat dalam lemari di Mampangprapatan, Jakarta Selatan. Korbannya adalah Ciktuti Iin Puspita/22 tahun, seorang gadis pemandu lagu yang konon berselisih paham dengan dua rekannya di dunia hiburan. Ironisnya, pelaku dan korban masih sama-sama berusia muda remaja. Pelaku pembunuhan Iin Puspita adalah sepasang kekasih berusia tanggung. Yang juga menghebohkan adalah pembunuhan dengan modus pembakaran korban hidup-hidup di Deli Serdang, Sumatera Utara. Pelaku pembakaran adalah  Ben Jonson Situmorang, sedangkan korbannya adalah Sudisman, warga Desa Tumpatan Nibung, Kecamatan Batang Kuis, Deli Serdang.  Peristiwa tragis itu terjadi pada 23 November selepas maghrib di Lapangan Bola Reformasi Tembung, Jalan Medan-Batang Kuis. Keduanya sudah saling mengenal. Motifnya konon akibat sakit hati dan dendam dipicu api cemburu.

Yang mencengangkan adalah kasus pembunuhan berlatar perbedaan pilihan atau dukungan pilpres yang terjadi di Sampang,Madura. Idris/30 tahun, warga Desa Temberu Timur, Kecamatan Sokabana Sampang, tewas ditembak. Tersangka pelaku penembakan maut itu adalah Subaidi/35 tahun, warga Desa Sokobana Laok, Kecamatan Sokobana. Merujuk pada keterangan pihak kepolisian, penembakan Idris terjadi menyusul duel maut diantara korban dan pelaku saat berpapasan di tengah jalan. Namun, indikasi lain menunjukkan bahwa pembunuhan itu telah direncanakan sebelumnya oleh pelaku.

Mencermati rentetan peristiwa pembunuhan yang mengerikan semacam ini, belum lahi dengan berbagai model kekerasan jalanan lainnya seperti begal motor, jambret, copet, rampok,  dan lain sebagainya, tentu saja kita bertanya-tanya, apakah sesungguhnya yang sedang terjadi di tengah-tengah bangsa kita? Adakah bangsa kita memang sedang mengalami disorientasi sosial yang akut, sehingga muncul fenomena ‘homo homini lupus’ (manusia adalah serigala pemangsa bagi manusia lainnya)? Mengapa peristiwa pembunuhan begitu mudah terjadi di tengah-tengah kehidupan bersama kita sebagai bangsa? Mengapa pembunuhan ibaratnya menjadi solusi bagi suatu masalah yang menghadang? Telah mulai lunturkan kadar keadaban bangsa kita sebagai bangsa yang ramah dan murah hati?

Sangat mungkin, kehidupan yang semakin individualis di tengah-tengah kemajuan teknologi serba instan saat ini, membuat sebagian orang tidak mampu beradaptasi dengan gerak kemajuan itu. Akibat kerentanan semacam ini, muncul gejala disorientasi sosial, sehingga seseorang yang labil kepribadiannya, lebih-lebih yang lemah lesu kadar imannya, serta-merta menempuh jalan pintas untuk melenyapkan siapa saja yang dianggapnya sebagai penghalang atau sebagai sumber masalah.

Kita semua sebagai warga bangsa tentu saja mesti waspada terhadap merebaknya fenomena ‘homo homini lupus’ semacam ini.  Bagaimana mengatasi fenomena berbahaya semacam ini? Pada level horizontal, diperlukan “antitesis sosial” untuk mengatasi fenomena ini diantaranya dengan menumbuhkan ikhtiar kolektif dalam hal solidaritas sosial dan rasa kepedulian yang kuat di lingkungan terkecil masyarakat, yakni pada level komunitas Rukun Tetangga. Sedangkan pada level vertikal (elite), antitesis sosial itu berupa keteladanan dari kaum elite pemimpin (formal maupun non-formal) untuk tidak terus berseteru atau bertikai secara verbal di hadapan publik. Kekerasan verbal di wilayah antar-elite, tanpa disadari sebenarnya memicu mengkristalnya kadar konflik di level akar rumput masyarakat.

Selebihnya, dan inilah yang terpenting, adalah setiap warga bangsa ini perlu melakukan “antitesis kerohanian” berupa kesadaran hakiki untuk meningkatkan keimanan dan taqwa kepada TUHAN Yang Maha Esa seturut agama dan kepercayaan masing-masing, bahwa ALLAH sajalah yang memiliki otoritas penuh atas ziarah hidup setiap kita. Dengan begitu, maka bakal tetap terjaga pula kesadaran hakiki bahwa hak untuk mencabut nyawa setiap orang, adalah semata-mata otoritas penuh dari ALLAH, TUHAN Yang Mahakuasa, Sang Penguasa Langit dan Bumi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *