EDITORIAL – BaSARnas dan Totalitas Tugas Kemanusiaan

Jenderal bintang tiga, Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi, Ketua Badan SAR Nasional (BaSARnas) berusaha kuat menahan tangisnya. Tetapi, dia tetaplah manusia biasa yang tak kuasa menahan jatuh airmatanya. Syaugi bersedih, sangat bersedih. Dia pun menangis seusai mendengarkan curahan hati keluarga para korban Lion Air JT-610, dalam acara Konferensi Pers antara unsur Pemerintah dengan keluarga para korban, di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur, Senin siang 5 November 2018.

Hadir dalam acara “curhat” itu antara lain Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono, unsur DVI Polri  yang diwakili oleh Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigadir Jenderal Dr Arthur  Tampi, dan Ketua Basarnas sendiri. Di barisan depan di antara para keluarga korban, hadir pula Rusdi Kirana, pendiri dan pemilik Lion Air, yang kini menjadi Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Malaysia.

Apa mau dikata, dalam sesi tatap muka itu, keluarga para korban menangis, menggerutu, mencerca, bahkan marah kepada pihak operator Lion Air yang dianggap  tidak becus mengelola manajemen penerbangan. Rusdi Kirana yang diminta oleh salah satu keluarga korban untuk berdiri memperkenalkan dirinya, menanggapi semua isi hati keluarga para korban dengan sikap empatik. Sembari berdiri menghadap keluarga para korban, Rusdi menunduk dalam-dalam. Pria berkumis tebal itu mengatupkan kedua belah tangannya sebagai pertanda rasa hormat sekaligus ungkapan permohonan maaf kepada keluarga para korban. Selebihnya, Rusdi duduk setia mendengarkan semua ungkapan hati keluarga para korban. Semoga saja ada hikmah yang dipetik Rusdi, untuk membereskan dan membenahi secara tuntas manajemen Lion Air yang selama ini oleh publik dinilai bobrok.

Dukalara yang dirasakan oleh keluarga para korban itulah yang sangat mungkin membuat Ketua Basarnas Muhammad Syaugi tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Sembari menahan sesenggukan suara tangis, dan seusai melap airmatanya yang terlanjur menetes, Syaugi berkata tegas: “Kami akan berjuang sekuat tenaga, all out, untuk mencari Saudara-saudari kita para korban yang masih berada di dasar laut Tanjung Karawang”. Semua keluarga korban yang menyaksikan “suasana psikologis” kesedihan Ketua Basarnas itu pun takzim, lalu spontan bertepuk tangan sebagai tanda respek kepada Syaugi. Respek yang sama itu  secara simbolik tentu saja tertuju kepada seluruh Tim SAR Gabungan yang dipimpin Syaugi selama masa Operasi Tim SAR.

Tangis Syaugi, selain merupakan luapan empati kemanusiaan seorang jenderal, tetapi sekaligus merupakan refleksi psikologis dari totalitas prajurit negara terhadap panggilan tugas negara yang sedang diemban. Tangis Syaugi dalam dimensi psikologi-personal merupakan refleksi dari puncak penghayatan dan batas resonansi perasaan seorang anak manusia biasa. Kendati berpangkat jenderal bintang tiga, Ketua Basarnas juga adalah seorang manusia biasa yang tak luput dari ketidakmampuan manusiawinya membendung rasa sedih. Syaugi bersedih menyaksikan keharuan keluarga para korban yang mesti ikhlas menerima garis takdir, kehilangan orang-orang yang dikasihi dengan cara yang tidak biasa; jatuh bersama dari ketinggian angkasa raya, menghempas keras permukaan laut, lalu sesaat kemudian “terkubur” bersama di dasar lautan nan gelap gulita.

Di bawah komando Syaugi selaku Ketua Basarnas, telah bergabung potensi-potensi SAR dari berbagai kesatuan diantaranya TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Badan Keamanan Laut (Bakamla), dan para relawan.  Tim SAR Gabungan sudah bekerja optimal tanpa kenal lelah. Mereka bekerja 24 jam penuh sejalan dengan perintah Presiden dan Kepala Negara pasca jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 pada Senin pagi 29 Oktober 2018. Kecelakaan yang merenggut 181 penumpang dan 8 awak pesawat itu merupakan peristiwa kelabu dalam dunia penerbangan nasional, bahkan dalam sejarah penerbangan dunia. Begitu ulet dan penuh totalitas pengabdian Tim SAR Gabungan, sehingga bahkan ada diantara anggota Tim SAR yang akhirnya gugur dalam tugas yakni penyelam senior Shacrul Anto!

Seperti janji Syaugi kepada keluarga para korban, Operasi Tim SAR yang sudah harus berakhir pada tanggal 7 November, akhirnya diperpanjang tiga hari sampai dengan 10 November. Dalam perpanjangan  tiga hari masa operasi itu, Basarnas hanya menerjunkan personil-personil Basarnas, tanpa melibatkan lagi potensi SAR dari institusi lain. Tetapi, apabila diperlukan untuk menyisir lagi sisa-sisa bodypart para korban yang masih tertinggal di bawah laut, maka Basarnas pun siap menempuh kebijaksanaan operasional yang dimungkinkan oleh regulasi. Bersamaan dengan itu, diharapkan dalam masa tambahan operasi Tim SAR, dapat ditemukan pula VCR (cockpit voice recorder). Pasalnya, sejauh ini Tim SAR baru menemukan DVR (data voice recorder). Rahasia penyebab jatuhnya Lion Air JT-610 itu bakal dapat dianalisis secara lengkap apabila VDR dan VCR sama-sama telah ditemukan.

Kita mesti mengapresiasi kerja keras Tim SAR Gabungan, lebih khusus lagi Basarnas. Para pengabdi negara ini telah memberikan pengabdian total pada tugas-tugas kemanusiaan yang diemban, tidak saja pada Operasi Kemanusiaan Lion Air JT-610, tetapi juga sebelumnya pada Operasi Gempa Lombok, dan Operasi Gempa-Tsunami Palu-Sigi-Donggala. Namun, sekuat apapun totalitas pengabdian Tim SAR dalam sebuah operasi kemanusiaan, toh operasi itu suatu saat harus pula berakhir. Pada titik inilah kita semua, khususnya keluarga para korban, perlu ‘mempersembahkan’ sikap ikhlas yang total pula. Yang pasti, melalui totalitas pengabdian Basarnas di bawah komando Muhammad Syaugi,  kita menemukan nilai tertinggi dalam kehidupan, bahwa setiap jiwa manusia adalah jiwa yang berharga di mata ALLAH, TUHAN Yang Mahakuasa, Sang Penguasa Langit dan Bumi! ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *