EDITORIAL: Balada Duka Kolektif Kita

Pesawat Lion Air (Foto: Medcom.id)

Ibaratnya belum kering airmata kolektif bangsa oleh karena dukacita yang menggemparkan dunia yakni gempa-tsunami Palu-Donggala, kini datang lagi duka yang juga menggemparkan dunia yakni kecelakaan pesawat Lion Air JT-610. pada Senin pagi 29 Oktober 2018. Kita berduka lagi. Kita menangis lagi. Sebagai satu bangsa, kita merasakan lagi getirnya duka kolektif. Sebagai satu bangsa, kita pun menangis bersama lagi. Berduka dan menangis. Menangis dan berduka. Begitulah balada duka kolektif kita hari-hari ini, bagaikan luka baru yang tergores di atas luka lama.

Setiap kali ada peristiwa kecelakaan pesawat komersial, di negeri mana pun itu terjadi, dunia internasional pasti terkejut. Begitu pula dengan tragedi Lion Air JT-610 yang sedang terbang dalam rute Jakarta-Pangkalpinang. Para pemimpin dunia mengirimkan ucapan simpati dan duka sebagai bagian dari solidaritas kemanusiaan. Pemimpin umat Katolik sedunia sekaligus Kepala Negara Tahta Suci Vatikan, Paus Fransiskus pun mengirimkan pernyataan duka, serta secara khusus memanjatkan doa khusus bagi keselamatan jiwa seluruh penumpang dan kru pesawat Lion Air JT-610.

Mengapa kecelakaan pesawat komersial serta-merta menimbulkan kegemparan mondial, berapapun jumlah penumpang yang berada di dalamnya? Dari perspektif psikologi publik, pesawat terbang dipandang sebagai moda transportasi yang paling nyaman dan aman secara teknologi mekanik. Hampir semua elemen pesawat terbang terhubung dengan kecanggihan teknologi, sehingga membuat publik yakin bahwa inilah moda transportasi ternyaman teraman. Dalam diksi yang lain, teknologi canggih membungkus hampir semua bagian dari tubuh peswat terbang. Maka, tak salah apabila muncul sugesti dan juga keyakinan publik, bahwa pesawat terbang adalah moda transportasi teraman di muka bumi.

Setiap peristiwa kehidupan, entah itu peristiwa gembira maupun peristiwa duka, selalu menyisakan hikmah di baliknya. Demikian pun halnya dengan musibah atau kecelakaan yang menimpa Lion Air JT-610. Pesawat berpenumpang total 189 orang yang terdiri dari 178 orang dewasa, 1 anak, dan 2 bayi, serta 8 kru pesawat itu, diperkirakan menukik tajam, jatuh menghujam permukaan laut di perairan sekitar Tanjung Karawang, Jawa Barat sekitar pukul 06.33 WIB sesaat setelah lost contact.  Pesawat naas tersebut take off dari Bandara Soetta Cengkareng pada pukul 06.20.

Sekira dua atau tiga jam setelah kabar pesawat hilang kontak beredar luas melalui media sosial, otoritas Komite Nasional Keselmatan Transportasi (KNKT) dan Badan SAR Nasional (Basarnas) mengonfirmasikan secara resmi bahwa pesawat tersebut positif jatuh. Seluruh penumpangnya diprediksi tidak selamat atau telah meninggal dunia. Konfirmasi pihak otoritas penerbangan tersebut tergenapi dengan ditemukannya serpihan badan pesawat dan sisa minyak dari pesawat di permukaan air di wilayah koordinat jatuhnya pesawat, berikut ditemukan pula beberapa potongan tubuh manusia yang diperkirakan terlepas dari tubuh ketika pesawat jatuh dengan keras menghunjam air laut.

Para penumpang naas itu, beragam latar belakangnya, namun cukup banyak berlatar profesi aparatur negara; ada pegawai dari Kementerian Keuangan, ada prajurit kepolisian dari Polda Bangka Belitung, ada Anggota DPRD Propinsi Babel, ada  beberapa Hakim dan Jaksa, ada pula Dosen, serta pelaku bisnis atau wirausahawan. Dari segmen sosial, para penumpang itu terdiri dari orangtua, ada suami-isteri beserta anak, ada muda-mudi dan atau kaum muda (yang sangat mungkin sedang merasakan kegembiraan momen peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober), bahkan ada pula pasangan yang baru saja menikah, dan atau yang akan menikah. Nuansa kegetiran dari kecelakaan tersebut terasa kian lengkap sebab ada anak-anak dan dua bayi yang ikut menjadi korban, padahal semestinya mereka memiliki perjalanan hidup yang masih teramat panjang.

Di luar faktor tulisan takdir Yang Maha Kuasa atas kehidupan manusia, ALLAH pun memberikan hikmat bagi manusia untuk mempertimbangkan hal-hal yang kiranya mampu memperkecil kemungkinan suatu kecelakaan. Terbetik kabar, semalam sebelum mengalami hari naas pada Senin pagi, pesawat Lion Air JT-610 telah mengalami kerusakan teknis pasca penerbangan malam hari dengan rute Denpasar-Jakarta. Apabila kerusakan teknis itu sudah diperbaiki oleh pihak operator, apakah mungkin perbaikan itu kurang tuntas sehingga memicu peristiwa fatal kecelakaan? Mengapa pula pesawat tersebut ‘dibiarkan’ tetap harus terbang, apabila pihak operator tidak cukup yakin dengan kondisi teknis terkini mengenai kelaikan terbang dari pesawat tersebut? Inilah daftar pertanyaan refektif yang harus dapat dijawab oleh para pemegang otoritas penerbangan. Jika ada kesalahan yang disengaja oleh operator pesawat, maka pemerintah harus bertindak tegas memberikan pinalti. Musibah Lion Air JT-610 kiranya boleh manjadi hikmah kolektif bagi segenap stakeholders atau pemangku kepentingan penerbangan di negeri ini.

Terbetik kabar pula, beberapa saat sebelum jatuh ke bumi, pilot pesawat tersebut sempat meminta ke otoritas navigasi udara untuk kembali ke base. Di sinilah terjadi missing link yang harus dijawab oleh otoritas penerbangan, dalam hal ini adalah KNKT, secepat-cepatnya setelah black box atau kotak hitam pesawat Lion Air JT-610 ditemukan nanti. Kita tentu sangat berharap agar black box tersebut dapat ditemukan sebelum masa kedaluwarsa 30 hari berlalu. Menemukan jawaban atas missing link tersebut berarti sekaligus menjadi jawaban agar peristiwa buruk semacam itu tidak terulang lagi di masa datang.

Hikmah lainnya yang mesti dipetik adalah pentingnya |Indonesia segera memiliki Mahkamah Penerbangan untuk dapat mengadili kesalahan-kesalahan dan atau kelalaian-kelalain dari setiap operator penerbangan di Indonesia. Apabila kesalahan atau kelalaian dari operator penerbangan terus berulang, maka Mahkamah Penerbangan dapat pula menjatuhkan vonis perihal kejahatan suatu korporasi penerbangan. Dengan begitu keselamatan penumpang atau publik dapat dijamin seturut hak asasi manusia.  Sungguh berdosalah operator dan atau otoritas penerbangan apabila meremehkan kendati hanya satu dari nyawa penumpang! Sebab pada hakikatnya penumpang pun adalah ciptaan ALLAH, TUHAN Yang Mahakuasa, Sang Penguasa Langit dan Bumi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *