EDITORIAL-Kebanggaan dan Sukacita dari “Ketidaksempurnaan”

Bulan Ananda, Seorang Anak SDN 88, Pekanbaru Menerima Hadiah Kursi Roda dari Presiden Jokowi ikut meramaikan pemukaan Asian Para Games 2018. Ia ikut memanah bersama Presiden Jokowi dalam Pembukaan Asian Para Game. (Foto: Ilustrasi)

Indonesia kembali membuat prestasi di panggung olahraga regional. Setelah sukses bertengger sebagai Empat Besar dalam klasemen negara-negara peserta Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, kini atlet-atlet Indonesia kembali unjuk kehebatan di pentas Asian Para-Games 2018 di Jakarta. Kali ini justeru lebih istimewa, karena kehebatan itu ditunjukkan oleh atlet-atlet “istimewa” atau atlet-atlet difabel. Mereka yang berkebutuhan khusus —oleh karena “ketidaksempurnaan” fisik—  justru sukses menunjukkan kesempurnaan dalam hal daya juang.

Semenjak Asian Para Games secara resmi dibuka oleh Presiden Jokowi pada Sabtu, 6 Oktober 2018, atlet-atlet difabel Indonesia telah dan terus memberikan kebanggaan dan sukacita bagi negeri dan tanah airnya, melalui raihan medali sebagai simbol tertinggi prestasi olahraga. Atlet-atlet difabel Indonesia telah berhasil melewati target prestasi yang dipatok pemerintah, yakni bisa meraih 17 medali emas di pentas Asian Para Games, event olahraga yang digelar untuk ketiga kalinya ini. Kini, Indonesia justeru telah mengumpulkan lebih dari 20 medali emas.

Sejauh ini, Indonesia diproyeksikan masih bisa menambah raihan medali mengingat pentas Asian Para Games III baru akan ditutup pada tanggal 13 Oktober 2018. Per tanggal 10 Oktober ini, kontingen Indonesia berhasil mencatatkan sejarah baru di panggung Asian Para Games dengan mendulang 86 medali, terdiri dari 23 medali emas, 29 perak, dan 34 perunggu. Inilah raihan medali terbanyak sepanjang keikutsertaan Indonesia di pentas Asian Para Games.  Saat Asian Para Games pertama kali digelar di China tahun 2010, Indonesia cuma memetik satu medali emas. Sesudah itu, pada Asian Para Games kedua di Incheon, Korea Selatan tahun 2014, kontingen Indonesia sukses menggondol sembilan medali emas.

Berkaca pada event Asian Para Games 2018 yang digelar di Indonesia, baiklah kita sebagai bangsa yang besar menjadikan momentum ini sebagai “titik balik” untuk lebih mengapresiasi keberadaan saudara-saudari kita sebangsa yang merupakan penyandang difabilitas.  “Ketidaksempurnaan” atau cacat fisik yang ada pada kaum difabel, kiranya dapat kita terima sebagai keistimewaan manusiawi yang melekat pada mereka. Dengan sikap respek kepada kaum difabel, maka diharapkan kaum difabel pun semakin tinggi kepercayaan dirinya untuk memberikan sumbangsihnya kepada bangsa dan negaranya. Sumbangsih itu diantaranya melalui pentas olahraga sebagai wahana persaingan anak-anak manusia dengan cara-cara paling bermartabat.

Melalui event olahraga kaum difabel sebagaimana Asian Para Games, baiklah kita sebagai bangsa yang besar semakin mampu memosisikan kaum difabel sebagai sumber kebanggaan dan sukacita bagi kemanusiaan. Halmana mengandaikan bahwa bangsa kita tidak lagi memosisikan kaum difabel sebagai warga negara kelas dua. Dari perspektif hakikat kemanusiaan, kaum difabel pun memiliki hak asasi manusia (HAM) yang setara dengan kaum non-difabel atau manusia berfisik normal.

Pentas olahraga sebagaimana Asian Para Games merupakan wahana simbolik bahwa masyarakat di benua Asia menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan kaum difabel. Dalam tataran yang lebih tinggi, kaum difabel pun dihormati keberadaannya melalui pentas olahraga tertinggi di muka bumi yakni Para-Olympic Games, atau olimpiade bagi kaum penyandang cacat. Lebih mulia dari ini, melalui event olahraga kaum difabel, kita menemukan pesan agung sekaligus transenden bahwa setiap manusia adalah sama dan setara di hadapan ALLAH, TUHAN Yang Mahakuasa, Sang Penguasa Langit dan Bumi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *