EDITORIAL – Menangis dan Bangkit Bersama “Palu-Donggala”

“Saya berada di dekat masyarakat Sulawesi dan saya berdoa untuk para korban yang meninggal – yang begitu banyak – untuk yang terluka, dan bagi mereka yang kehilangan rumah dan pekerjaan mereka. Semoga Tuhan menghibur mereka dan mendukung upaya pihak-pihak yang mengambil bagian dalam upaya bantuan.” Perkataan dan doa Paus Fransiskus. Angelus Domini 30/9/2018 Vatican News

Akal pikiran manusia tak kuasa memahami kedahsyatan gerak alam. Hanya suara nuranilah yang sangat mungkin bisa membimbing setiap insan manusia demi memahami sekaligus memaknai kedahsyatan alam. Dalam dimensi yang lebih transenden, kedahsyatan alam dapat pula dimaknai sebagai pesan ilahiah dari ALLAH, TUHAN Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta. Pesan ilahiah ini kiranya hanya mampu ditangkap dan dicerna dengan mengandalkan keteguhan iman yang sungguh, serta rasa taqwa yang mendalam.

Jumat sore 28 September 2018. Kedahsyatan gerak alam itu terjadi di bumi Sulawesi Tengah, tepatnya di Palu dan Donggala sebagai lokasi utama, serta beberapa kabupaten di sekitarnya seperti Sigi dan Mamaju. Gempa bumi dahsyat dengan magnitudo 7,7 Skala Richter (SR) disertai gelombang tsunami hebat menghantam wilayah tersebut. Begitu kuatnya goncangan gempa sehingga resonansinya terasa hingga ke pulau Kalimantan.

Indonesia kembali terkejut. Belum lagi tuntas rehabilitasi gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, datang lagi gempa Palu-Donggala yang lebih mengerikan. Dari berbagai kesaksian yang dikisahkan para saksi mata yang selamat dan atau mampu menyelamatkan dirinya, gempa Palu-Donggala memang sungguh menggemparkan. Tsunami dengan ketinggian hampir enam meter menyapu ludes dan menghanyutkan apa saja di depannya; manusia, rumah penduduk, toko, hotel, bahkan rumah ibadah, termasuk harta benda bernilai ekonomi seperti mobil, sepeda motor, dan lain sebagainya. Belum lagi ada kebakaran di sejumlah titik lokasi pasca gempa, mungkin akibat korsleting arus listrik, yang membuat penduduk Palu dan Donggala semakin tercekam ketakutan yang sangat.  Kondisi kota Palu dan Donggala rusak parah, berantakan, dan kacau-balau, nyaris tidak mampu digambarkan melalui narasi bahasa.

Begitu dahsyatnya gempa Palu dan Donggala sehingga kita tak mampu memahaminya dengan logika atau akal sehat manusia yang serba terbatas. Gelombang tsunami yang bergerak dari lautan, bagai menghujam tuntas ke jantung daratan Sulawesi Tengah. Palu dan Donggala adalah dua wilayah terdampak gempa dan tsunami paling dahsyat, disusul dengan sejumlah kabupaten di sekitarnya antara lain Sigi, Parigi Moutung, hingga ke Mamuju-Sulawesi Barat.

Sungguh tak terjangkau akal pikiran manusia. Getaran gempa dan hantaman tsunami yang beriringan mengakibatkan jalan-jalan beraspal pun pecah berantakan. Di beberapa ruas jalan, tanah beraspal itu bahkan terbelah seperti hendak menelan siapa pun yang berjalan di atasnya. Dalam pada itu, di titik-titik lokasi lainm, tanah yang telah berwujud lumpur coklat itu bergerak seperti gelombang air seperti hendak mengejar dan menyedot siapapun yang ada  di atas permukaan tanah. Pergerakan tanah secara bergelombang itu mengakibatkan bukit-bukit longsor, rumah-rumah terbolak-balik tak berbentuk. Bahkan yang lebih mencengangkan, dataran rendah pun berubah menjadi ketinggian akibat pergeseran tanah tersebut.

Memasuki hari keempat, belum juga sepekan pasca gempa dashyat  tersebut, sumber-sumber otoritas telah mengonfirmasikan korban jiwa hampir memasuki seribu 1.000 (seribu) orang! Di Kota Palu saja, korban meninggal tercatat telah mencapai lebih dari 800 orang, sedangkan ratusan korban jiwa lainnya menyebar di daerah Donggala, Sigi, dan sekitarnya. Korban jiwa diperkirakan akan terus bertambah, mengingat banyak orang yang masih terjebak dalama reruntuhan gedung-gedung fasilitas publik seperti di hotel, rumah sakit, dan mall.

Pasca gempa, pemerintah pusat bertindak cepat. Presiden Jokowi bahkan telah terbang ke lokasi gempa untuk memantau langsung penangangan darurat pasca gempa. Sebelumnya Kepala Negara telah memerintahkan Menko Polhukam Wiranto untuk langsung mengoordinir upaya-upaya darurat penanganan situasi dan kondisi pasca gempa-tsunami. Aparat Basarnas yang ditopang oleh para prajurit TNI dan Polri telah terjun ke lokasi gempa sejak hari pertama pasca gempa. Barisan aparat yang selalu siap-siaga mengabdi bagi Ibu Pertiwi ini dibantu oleh banyak relawan dari berbagai instansi dan organisasi kemasyarakatan.

Bersamaan dengan itu, dari seluruh wilayah Nusantara, simpati dan empati warga bangsa mengalir deras untuk segenap korban gempa Palu-Donggala. Bahkan, yang lebih mengesankan sekaligus mengharukan, para korban gempa Lombok yang masih berada di pengungsian ikut tergerak hatinya untuk membantu para pengungsi gempa Palu-Donggala. Korban gempa membantu korban gempa, inilah kekuatan panggilan kemanusiaan yang dapat menjadi milik siapa saja yang mau peduli untuk berbagi.

Oleh karena simpati dan empati kemanusiaan yang tinggi, aneka bantuan telah dikirim ke Palu, Donggala, dan Sigi serta daerah lainnya yang terdampak gempa dan tsunami. Kita semua, sebagai saudara-saudari sebangsa dan setanah air menangis bersama para korban gempa Palu-Donggala. Setelah itu, kita harus memastikan bahwa para korban mampu bangkit dari keterpurukan, demi melanjutkan hidup mereka bersama kita sebagai saudara-saudari sebangsa.

Dari belahan bumi lainnya, di benua lainnya, simpati warga dunia pun mengalir ke Indonesia, khususnya Sulawesi. Pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, Minggu 30/9/2018 secara khusus memimpin doa untuk semua korban gempa Palu-Donggala. Dari jendela utama Basilika Santo Petrus Vatican, tempat dimana Paus sering memberikan berkatnya bagi kota dan dunia (urbi et orbi), Paus mengirimkan pesan dan doa khusus bagi seluruh korban gempa Palu-Donggala. Sri Paus berkata bahwa para korban gempa dan tsunami di Sulawesi pasti memperoleh penghiburan iman dari ALLAH, TUHAN Yang Mahakuasa, Sang Penguasa Langit dan Bumi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *