Saturday, May 30

Bupati Mentawai, Dua Periode Mengejar Ketertinggalan

Bersih.id – Ini periode kedua bagi Yudas Sabaggalet memimpin Mentawai, sebuah kabupaten kepulauan di ujung barat pulau Sumatera Barat. Tentu banyak tantangan yang dihadapinya. Kini, dia sedang mengembangkan Trans Mentawai, sebuah moda transportasi untuk menghubungkan pulau-pulau yang terisolir di tempat tersebut.

Ada banyak program dan cita-cita hendak dikembangkannya untuk menjadikan Mentawai menjadi daerah yang sama majunya dengan Kabupaten lain di Indonesia. Berikut, sekelumit di antara program-program yang disampaikan Bupati Mentawai, Yudas Sabaggalet, S.E., M.M, dalam perbincangan dengan Fery Herdiman dari bersih.id beberapa waktu lalu:

Ini periode kedua pemerintahan Anda di Mentawai. Berarti periode pertama Anda dinilai berhasil oleh masyarakat Mentawai?

Masyarakat merasakan yang kita kerjakan. Saya sebetulnya inginkan bapak-bapak melihat sendiri pembangunan di Mentawai secara lansung, tetapi sikonnya tidak memungkinkan.

Mentawai itu ada di Sumatera Barat. Mentawai memiliki sekitar 60 pulau, tapi memiliki empat pulau besar. Kabupaten ini terdiri dari 4 kelompok pulau utama yang berpenghuni yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. yang dihuni oleh mayoritas masyarakat suku Mentawai. Selain itu masih ada beberapa pulau kecil lainnya yang berpenghuni namun sebagian besar pulau yang lain hanya ditanami dengan pohon kelapa. Penduduknya lebih kurang sekitar  94.000 dengan luas wilayah 6.000 km2 dengan 10 kecamatan, 43 desa, serta kurang lebih 300-an lebih dusun.

Kita sekarang sedang membangun Trans Mentawai, yaitu yang menghubungkan pulau yang satu dengan pulau yang lain supaya tidak terisolir.

Kedua, kita sedang membangun pembangkit listrik tenaga biomassa dari bambu. Ini yang pertama di Indonesia. Kita berharap dengan beroperasinya biomassa ini maka harga BBM akan turun. Karena di Mentawai harga BBM itu Rp 25.000/liter. Program BBM Satu Harga yang digurlirkan Presiden Jokowi kan baru akhir-akhir ini. Sebelumnya saya sudah menggagas pembangkit tenaga listrik biomasa dari bambu. Itu dari bamboo, bukan dari  kayu. Pembangunannya lagi berjalan, dan mesinnya sudah ada. Kita kerja sama dengan Amerika, sebagai bantuan hibah dari pemerintah AS dan berkerja sama dengan Bappenas.

Pembangkit Biomassa itu kapan bisa terealisasi?

Kita berharap 2018 akhir itu sudah jalan, sudah clear. Sekarang di beberapa tempat instalasinya sudah dipasang. Kemudian kita juga ada program KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), kerja sama denga Kementerian Pariwisata.

Ada juga program Kementerian Kelautan dan Perikanan yang kita sebut dengan SPIP. Kita berharap Mentawai merupakan sentra perikanan untuk pantai bagian barat Sumatera. Makanya kita di sana tidak memberi izin bagi perkebunan, seperti untuk membangun sawit. Itu karena Mentawai merupakan wilayah kepulauan. Membangun perkebunan sawit itu merusak lingkungan dan tidak ramah lingkungan. Jadi, kita mendukung pariwisata di Mentawai. Kita akan  bangun juga peternakan sapi yang terintegrasi dengan aspek lain. Aspek pariwisata, peternakan, ekonomi. Peternakan sapi ini kita bisa gunakan kotorannya untuk banyak keperluan. Ini yang kita bangun di Mentawai.

Bersama sang istri tercinta. (Foto; Ist)

Kemudian lapangan terbang kita perpanjang lagi dengan bantuan dari Kementerian Perhubungan. Lalu Provinsi Sumatera Barat juga akan membantu untuk pembebasan lahan lapangan terbang.

Berapa panjang lapangan terbang tersebut?

Kita akan bangun lapangan terbang Rokot. Saya mau perpanjang dari 800 meter menjadi kurang lebih 1500 meter. Kita bikin ada dua bandara, satu di Rokot di Pulau Sipora 1500 meter, dan satu lagi di Pulau Siberut yang juga skala internasional. Itu sudah kita bebaskan 3 km. Maskapai penerbangan Garuda Indonesia menyatakan kesiapannya untuk membuka rute penerbangan langsung dari Padang menuju Mentawai, Sumatra Barat. Bandar Udara Rokot merupakan bandar udara perintis yang terletak di Desa Rokot, Kecamatan Sipora. Saat ini, hanya pesawat berbadan kecil yang dapat mendarat di bandara ini dengan jenis Cassa berpenumpang sekitar 15 orang. Di kawasan KEK di Pulau Siberut kita rencanakan  juga membangun lapangan terbang  yang berskala internasional. Itu kerja sama dengan Kementerian Pariwisata.

Terkait Trans Mentawai, apa impian Anda?

Indonesia merupakan poros maritim dunia. Seperti menghubungkan pulau Jawa dengan Sumatera melaui Merak-Bakahuni. Itulah yang saya sebut Trans Mentawai. Dan ini lagi berproses. Sudah ada bantuan dari pusat, tahun ini kita bisa dapat sekitar 80-an M. Tapi tentunya kita berharap dukungan pusat bisa lebih besar. Ini sudah dimulai. Targetnya bisa selesai pada masa jabatan kedua. Sekarang jalan sudah dicor. Periode pertama sudah selesai lebih kurang 30 persen.

Apa tantangan paling besar di saat-saat awal Anda membangun Mentawai?

Yang pertama, teritorial. Kita bayangkan membawa material pembangunan itu dari Pulau Sumatera ke Mentawai menggunakan tongkang. Dan itu mahal. Tantangan kedua adalah karena kita di Mentawai itu juga ada hutan produksi. Di sana 82% itu hutan produksi. Kita buat jalan harus lewat hutan produksi, dan itu ada proses pinjam pakai dan sebagainya. Jadi prosesnya ribet, dan agak rumit. Seperti sekarang kita bangun jalan di Pagai Selatan. Itu kan hutan produksi yang dikelolah perusahaan kayu dan belum ada kesepahaman dengan kita. Kita kan maunya dicor tapi kan wilayah itu merupakan hutan produksi. Karena itu, hal ini mungkin perlu mendapat perhatian kementerian yang terkait seperti Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Bukannya untuk pembangunan seharusnya ada kemudahan?

Seharusnya begitu. Tapi kenyataannya belum ada kejelasan soal itu. Saya sudah kasih surat tapi mungkin lagi berproses. Mudah-mudahan kita ada pertemuan dengan Presiden lagi. Sebelumnya kami kumpul di Istana. Kami sudah bertemu presiden. Kalau ada waktu lagi kita bisa sampaikan. Kan Bapak Presiden sudah datang ke sana.

Berapa kali Presiden Jokowi berkunjung ke Mentawai?

Sudah satu kali. Presiden Jokowi yang datang ke sana. Yang pertama sekali itu Wakil Presiden Bung Hatta. Kemudian tidak pernah datang lagi. Pada tahun 2010 saat bencana terjadi Presiden SBY datang ke Mentawai. Tapi yang betul-betul datang ke Mentawai untuk melakukan kunjungan secara tersencana yaitu baru Presiden Jokowi.

Mentawai dikenal dengan pariwisatanya. Apa yang Anda lakukan untuk mengembangkan pariwisata di tempat itu?

Kita ada KEK, Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata. Tapi konsepnya adalah pengembangan wisata skala besar. Kita  membangun kota di situ. Kita bangun tempat surfing internasional. Kita berharap dengan begitu maka akan dibangun lapangan internasional di situ. Kedua, juga kita kembangkan infrastruktur yang mendukung pariwisata. Kalau tidak ada infrastruktur bagaimana kita mengakses  pariwisata? Lapangan terbang kan juga mengakses pariwisata. Kalau tidak ada lapangan terbang bagaimana kita bicara pariwisata. Bali kan memang didukung oleh bandara, bandara internasional.

Bagaimana dengan kekayaan kulinernya?

Kekayaan kuliner bisa berkembang. Ada banyak makanan tradisional di sana. Misalnya ada nasi padang dan sebagainya.

Kader tulen PDI Perjuangan. (Foto: Ist)

Bagaimana dengan potret masyarakat Mentawai?

Mentawai memiliki sumber daya alam yang menjanjikan. Ada laut, ada budaya, ada taman nasional Siberut di sana. Tapi tingkat kemiskinan di Mentawai cukup tinggi. Tingkat kemiskinan tertinggi di Sumbar ada di Mentawai yakni mencapai 15%. Penyebabnya karena wilayah itu belum dikembangkan. Sejak kita jadi kabupaten belum tersentuh dengan pembangunan yang sifatnya terarah. Begitu saya jadi Bupati, baru kita arahkan. Ada Trans Mentawai, KEK, sawah kita buka. Itu sekarang berproses. Kita bangun pendidikan. Tahun 2011 ada 4 SMA, sekarang ada 11 SMAN saya buat, walaupun sekarang diambil alih oleh Provinsi. Pada tahun 2011 itu lebih kurang ada 6 SMP,  sekarang ada 24 SMP.  Tahun 2011 tidak ada SMK, sekarang ada 3 SMK.  Perguruan Tinggi sudah ada, sekarang kita ada Akademi yang nanti cikal bakal saya mau naikkan jadi Politeknik atau Akademi Kemaritiman. Jurusannya membuat kapal dan masalah-masalah kelautan. Itu ide-ide yang kita bikin.

Bagaimanan dengan pengembangan SDM?

Pada periode pertama saya, kita sekolahkan anak Mentawai 600 orang dan itu menggunakan anggaran ABPB. Mereka dikirim ke PT di Jawa, ada di UGM, IPB, UNJ, UNY. Jadi mereka dikirim ke Yogyakarta dan Jakarta, dan beberapa di Surabaya. Ada perguruan tinggi swasta yang terkenal yaitu Widya Mandala. Konsepnya ada 600 orang kita sekolahkan. Kita kerja sama juga dengan TNI-Polri. Saya bikin MoU untuk membantu mempersiapkan anak-anak Mentawai sehingga memudahkan mereka untuk  masuk TNI Polri. Sekarang ada hampir 20-30-an Polisi Mentawai yang sebelumnya tidak ada. Dan tentara juga ada sekitar ada 20-an. Dan yang menggembirakan saya, tahun 2013 ada masuk Densus 88 satu orang. Ini saya buat supaya orang-orang Mentawai mengabdi juga kepada bangsa dan negara ini, tidak sekadar jadi penonton. (Fery)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *