Last Minute Dramaturgi Cawapres Jokowi dan Sedikit Rasa Maklum

Presiden Jokwi dan KH. Ma’ruf Amin

JAKARTA (bersih.id) — Hingga pukul 16.00, Kamis, 09/8/2018, nama Mahfud MD masih dominan sebagai calon terkuat. Saat itu, Mahfud MD bahkan sudah berada di dekat lokasi acara, 100 meter dari restoran Plataran Menteng, tempat dimana para pimpinan Parpol mengadakan pertemuan bersama Jokowi. Ia menunggu karena mendapat perintah untuk datang. Mahfud MD sendiri sudah berbaju putih sesuai instruksi Jokowi dan membawa kelengkapan lainnya. Liputan TV dan berita hampir semua media online pun secara sistematis membangun persepsi bahwa Prof Mahfud yg akan mendampingi Jokowi.

Para Pimpinan Parpol Pendukung yang hadir dalam pertemuan ini antara lain Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Selain itu, Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie, Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, dan Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono.

Sedangkan sembilan sekjen yang hadir, yakni Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Sekjen Partai Golkar Lodewijk Paulus, Sekjen Partai Nasdem Johnny G Platte, Sekjen PKB Abdul Kadir Karding. Selain itu, Sekjen Partai Hanura Herry Lontung, Sekjen PPP Asrul Sani, Sekjen PSI Raja Juli Antoni, Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq dan Sekjen PKPI Verry Surya Hendrawan.

Dalam pertemuan Jokowi dengan para ketua umum dan sekjen partai politik itu, ternyata memiliki pilihan berbeda dengan berita sejak pagi hari. Para pimpinan Parpol dan Jokowi akhirnya  menyepakati mengusung Ma’ruf Amin sebagai cawapres pendamping Jokowi. Apa yang terjadi sebenarnya sehingga Mahfud MD yang selama ini digadang-gadang, pada last minute batal menjadi cawapres Jokowi ?

Mahfud MD mengaku kaget atas keputusan Joko Widodo memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden pendampingnya di Pilpres 2019. Meski terkejut, Mahfud mengaku tidak kecewa atas keputusan tersebut. “Menurut saya biasa di dalam politik, itu tidak apa-apa. Kita harus lebih mengutamakan keselamatan negara ini daripada sekadar nama Mahfud,” ujar Mahfud Kamis, 9/8/2018, malam.

Mahfud mengaku menerima keputusan tersebut. Ia menilai, proses yang berjalan sangat konstitusional. “Kita mendukung, negara ini harus terus berjalan,” ujar Mahfud.

“Saya tidak kecewa, kaget aja,” ujar mantan Mahkamah Konstitusi tersebut. Sekitar pukul 17.30 WIB, Mahfud meninggalkan restoran sebelum Jokowi dan para pimpinan parpol menggelar jumpa pers.

Batalnya Mahfud Md jadi cawapres pendamping Jokowi bisa dibilang sangat dramatis. Mahfud mengaku diminta secara resmi jadi cawapres Jokowi, Kamis pagi. Bahkan sejak Rabu malam sudah diminta stand by. Bukan cuma mengirim CV, Kamis pagi Mahfud juga sudah diminta mengukur kemeja putih. “Kalau resminya sih tadi pagi, dimintai curriculum vitae, tadi malam diminta untuk standby tapi belum diberi tahu. Tadi pagi saya diminta curriculum vitae dan diminta mengukur kemeja putih itu favoritnya Pak Jokowi,” kata Mahfud.

Beberapa minggu sebelumnya nama Mahfud MD sudah santer disebut. Dia sendiri juga sudah menyatakan kesediaan. Bahkan ketika itu, ia menjelaskan tiga alasan bersedia mendampingi Jokowi. “Pertama tentu panggilan sejarah ya, saya kan aktivis juga, pengin juga ada di medan perjuangan. Kedua, tentu kepercayaan Pak Jokowi kepada saya, kalau memilih saya tentu kan percaya kepada saya. Ketiga, elektabilitas Pak Jokowi untuk menang itu sangat bisa,” kata Mahfud.

Banyak pihak menanti-nanti, tapi menurut info dari dalam,  ternyata karena ada penolakan dari sejumlah parpol koalisi. Akhirnya  nama cawapres Jokowi berubah di last minute. “Ya, Mahfud MD batal jadi cawapres Jokowi dan Rais Aam PBNU yang juga Ketua MUI, Ma’ruf Amin, diumumkan Jokowi sebagai cawapres pendampingnya,” kata sumber itu.

Adakah hal besar yang membuat Mahfud Md batal jadi cawapres Jokowi di last minute? Jokowi mengatakan Ma’ruf Amin sebagai tokoh bangsa yang telah menduduki sejumlah posisi penting di lembaga negara, mulai DPR hingga Wantimpres. Hal itulah yang menjadikan Jokowi jatuh hati hingga akhirnya memilih berpasangan dengan Ma’ruf Amin.

Boleh jadi pilihan ini berdasarkan pertimbangan tantangan jaman ini bagi kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan KH Maruf Amin adalah jawaban untuk tantangan jaman bagi bangsa Indonesia saat ini.

Radikalisme, politik sektarian, ekstrem kanan, adalah sebuah isu global yang kini menjadi hantu dunia yang sangat menakutkan. Kita bisa berkaca pada Perancis yg menderita karena maraknya terorisme. Kehadiran imigran Timur Tengah di Jerman yg menyibukkan pemerintah setempat dengan isu sektarian agama. Tapi bisa ditengok Singapura. Kiranya bukan tanpa alasan Singapura menunjuk Halimah Yacob sebagai presiden muslim pertama di negeri singa itu.

Publik bangsa ini, terkhusus warga Jakarta, tentu masih merekam dengan jelas brutalnya isu SARA dalam Pilgub DKI lalu. Semua begitu terang benderang bahwa sentiment etnis dan apalagi agama begitu nyata di depan mata. Trauma dan kekuatiran akan retaknya entitas kebangsaan itu begitu dekat. Kondisi setahun silam di DKI itu, dipertegas lagi dengan khabar adanya  “Ijitma Ulama” yang diusung paket lainnya. Di jalan-jalan Jakarta mulai marak spanduk yang isinya mengarah ke sana. Di media sosial lebih kuat lagi  isu dan sentimen entis, suku dan agama dibangun secara sistematis.

Sementara melirik pihak sebelah, pendukungnya masih terpetakan dalam koalisi yang sama. Setidaknya partai pendukungnya masih terkonfigurasi seperti Pilgub di DKI lalu. Karena itu, seperti apapun argumen yang didaraskan tentang kampanye damai, bayangan isu sektarian dan politik identitas yang diusung aliansi 212 itu tak bisa dipungkiri bakal menghantui Pilpres 2019 yang akan datang. Dan taruhannya adalah kepentingan negara dan bangsa ini. Terlebih keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pada Jokowi sendiri, seperti periode sebelumnya, cukup sengit dirongrong isu sentiment negatifseperti anak PKI, bukan muslim, anak haram, anti ulama, pro China dan lainnya. Mencermati semua fenomena terkini, tampaknya Parpol pendukung dan Jokowi ingin meredam isu ini. Tanpa itu, dalam periode kedua pemerintahannya nanti akan terus diganggu isu SARA serta politisasi agama, dan kelanjutan pembangunan bangsa ini akan jadi taruhan serius.

Parpol pendukung dan Jokowi tampaknya sadar bahwa tantangan terbesar Jokowi di periode kedua bukan soal “how to use power.” Semua parpol pendukung tahu, Jokwi sangat mampu dalam menjalankan program kerjanya untuk bangsa dan negara ini. Tantangan terbesar Jokowi justru soal “how to get power.” Supaya bisa kerja di periode kedua, Jokowi harus menang dulu. (Stanis Soda Herin)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *