‘Ulasan Bola’ VIKTUS MURIN: Sukacita Madrid dan Ratapan Liverpool

VIKTUS MURIN, Kolumnis dan penikmat bola, pernah menjadi jurnalis era 1990-an.

JAKARTA – Tertangkap oleh mata kamera sebelum laga pamungkas Liga Champions 2018 yang mempertemukan Real Madrid versus Liverpool, suasana di pintu keluar “katakombe” (ruang bawa tanah) Stadion Olympiade Kiev-Ukraina. Rupanya sudah ada tanda-tanda psikologis perihal kekalahan Liverpool. Tatkala antri berbaris hendak menaiki anak tangga untuk berjalan masuk ke dalam lapangan megah berumput  hijau, bahasa tubuh Mohamad Salah terlihat agak gugup. Dia tak kuasa menatap ke arah Ronaldo yang berdiri sejajar sebagai lawan di sampingnya, padahal CR7 terus menoleh ke arah Salah dengan mimik serius sebagai wujud sapaan antara “sejawat” penyerang.

Satu atau dua menit setelah memasuki arena pertandingan, bahasa tubuh Salah yang gugup kian kentara. Tatkala seremoni pembukaan Liga Champions dimulai, di antara 22 pemain dari dua kubu yang berdiri sejajar bersama “para pengadil”, Salah tak juga menatap lurus ke arah kamera  televisi yang menyorot dan menyiarkan momen ini ke seluruh jagad. Salah tampak hanya menoleh ke kiri dengan pandangan setengah kosong, mungkin demam panggung, mungkin juga hendak memanjatkan asa untuk menang.

Sementara itu, di tempat lain, masih dalam satu barisan memanjang berderat ke samping, nampak Ronaldo berdiri gagah dengan wajah tegak menatap ke depan. Seperti serdadu Portugis yang fokus pada misi ke medan perang. Secara simbolik ada benarnya; bahwa sorotan mata itu pertanda fokus. Maka yang fokuslah yang akan menang! Ronaldo lebih fokus menyongsong pertarungan. Apabila Salah nampak tidak fokus, itu bukan salahnya Salah. Apabila sebelum laga berlangsung Salah tidak terlalu fokus, mungkin dia menyadari bahwa dirinya sedang menjadi “the rising star”. Dia sadar tengah menjadi sorotan mata miliaran manusia. Salah mungkin membayangkan bahwa di panggung tertinggi Liga Champions, terpampang “lembaran buku” yang terbuka lebar bagi warga bumi, untuk membandingkan kehebatan dirinya dengan CR7.

Demikianlah, seberapa tinggi pun teknik mengolah si kulit bundar, faktor mental tetaplah yang menentukan kematangan personal. Salah memang hebat, hampir sehebat Ronaldo. Tetapi, urusan perihal kekuatan mental, Salah belum benar-benar setangguh CR7. Liverpool memang tim mumpuni di ajang Liga Champions, nyaris setara Real Madrid. Tetapi, mentalitas kolektif jualah yang melindungi keperkasaan tim. Di partai pamungkas, mentalitas  El Real ternyata lebih dekat menjangkau “Si Kuping Lebar” ketimbang mentalitas kolektif The Reds.

Air Mata yang Tumpah itu…

           

Ronaldo menghibur Mohamed Salah

Bola itu telanjang” –mengutip judul buku dari sahabat saya, pengamat bola asal NTT, Dion DB Putra–  seperti tergenapi dalam laga Sabtu waktu Kiev atau Minggu dinihari waktu Nusantara. Dari bola yang telanjang itulah, kita menyaksikan dramaturgi bola dalam warnanya yang kontras kental; tatkala dua pria petarung menangis pilu; Mohamed Salah dari pasukan Si Merah, pun Dany Carvajal dari pasukan Si Putih. Pada perjalanan menit yang berbeda; Salah dan Carvajal terpaksa berjalan gontal meninggalkan arena pertandingan akibat cidera akut. Salah cidera di tulang bahu, Carvajal cedera hamstring.

Menyusul cidera akut yang menimpa Salah, spontan muncul gunjingan, cercaan, umpatan, dan atau cacian terhadap Sergio Ramos yang dianggap sebagai biang kerok. Mau bilang apa, dalam pentas drama bola yang telanjang itulah; untung tiada dapat diraih, malang tiada dapat ditolak.  Begitulah, musibah di lapangan adalah bagian paling dramatik dari suratan nasib para pemain, pelatih, dan juga fans penikmat bola. Kala permainan yang indah “terinterupsi” oleh musibah, niscaya nyatalah bahwa bola itu bukan hanya telanjang, tetapi lebih dari itu manusiawi.

Oh Salah, apakah salahmu, sampai kau harus berhenti di seperempat waktu permainan? Mungkin cuma Ramos yang bisa menjawabnya. Jawaban Ramos tersimpan rapi dalam ruang batinnya. Siapakah yang harus disalahkan saat Salah berjalan gontai keluar lapangan sembari tersedu-sedan menangisi nasibnya? Tidak sedikit yang menyalahkan Ramos, pilar beton El Real yang terus memagari wilayahnya dari serbuan musuh. Posisi tangan Ramos yang tertangkap kamera seperti mengunci tangan Salah dianggap jadi penyebab cidera Salah. Lalu salahkah Ramos? Mungkin saja. Tangan Ramos memang terlihat “memiting” lengan Salah. Tapi, apakah tangan Ramos aktif menarik lengan Salah? Entahlah, semuanya masih dapat diperdebatkan.

Sangat mungkin, Ramos hanya berusaha bermain cerdik. Cerdik seperti ular. Sayangnya, Ramos lupa bersikap tulus seperti merpati. Justru sang mega-bintang Ronaldo yang menunjukkan ketulusannya, seperti merpati.  Tatkala Salah meratapi nasibnya akibat tak kuasa lagi bermain, Ronaldo spontan melangkah ke arah sang putra Mesir. Pangeran warga bola Portugal itu menempelkan kedua belah telapak tangannya ke pipi Salah. Dia menghibur dan menguatkan Salah. Begitulah sekeping dramaturgi di lapangan bola. Ada musibah yang mengundang penghiburan. Ada tragedi yang memantulkan empati. Kendati begitu, the show must go on; pertunjukan harus terus berlanjut. Separoh dunia mungkin merasa kehilangan aksi-aksi atraktif Salah di panggung puncak Liga Champions, sembari berharap Salah akan bersinar lagi di panggung bola yang lebih terhomat!

Karius yang Gugup, Bale yang Beruntung

Loris Karius, kiper andalan Liverpool yang juga kiper muda Jerman. Betapa perih garis nasibnya. Blunder lemparan bola dari kotak pinalti, membuat Kareem Benzema tertawa lebar memandang gawangnya yang kecolongan. Beberapa menit sesudah itu, dua gol spektakuler Gareth Bale menyempurnakan rasa gugup Karius; satu gol salto, satu lagi gol halilintar! Dua kali Karius terhempas oleh tendangan Bale.

Betapa terpukulnya Karius sehingga seusai peluit akhir sang pengadil berbunyi, Karius menangis meratapi nasibnya sembari berlutut dan merundukkan kepalanya dalam-dalam ke rerumputan stadion. Karius, sang kiper andalah Jurgen Klopp ini mungkin tidak lagi ingat, bahwa dalam laga melawan El Real, dia telah melakukan beberapa aksi cemerlang diantaranya memblok tendangan Ronaldo yang biasanya mematikan. Gol hiburan dari Mane, penyerang terbaik Liverpool setelah Salah, tak mampu menghapus duka Kairus.

Di sisi lain lapangan, seusai laga pamuncak, Bale tampak tertawa sumringah, girang bukan kepalang. Dua gol yang dibuatnya memastikan kemenangan pasukan sang pelatih berkepala plontos, Zinedine Zidane. Kendati sempat kecewa karena tidak dimainkan Zidane sebagai starter, Bale berhasil membuktikan dirinya sebagai solusi bagi El Real. Dia sempat ‘dilupakan’ sebagai starter tetapi muncul kemudian sebagai pahlawan. Suratan nasib Bale menghantarnya pada keberuntungan, dikenang sebagai bagian manis dari sejarah kemenangan ke-13 El Real di ranah Liga Champions.

Ronaldo mencium trophi Champion League

Laga penuh gengsi dan impresi antara Si Merah Liverpool versus Si Putih Real Madrid telah menorehkan banyak kisah. Kisah yang pedih-perih. Pun yang penuh sukacita. Kisah tentang airmata. Pun tentang tawa lebar. Kisah-kisah itu menyeruak pula ke dalam benak dan sanubari para pendukung di seantero bumi, tak terkecuali di sini, di Nusantara.

Kesedihan memang terasa untuk fans Liverpool, namun itu semua bakal berlalu bersama waktu. Sebaliknya kegembiraan terasa untuk fans El Real, namun itu semua pun bakal berlalu bersama waktu.

Seiring perjalanan waktu, ketegangan psikologis diantara para pendukung kedua klub harus pula berakhir, sebab laga bola bukanlah peperangan dalam arti sesungguhnya. Peperangan  di lapangan hijau adalah peperangan taktik-strategi berbasis sportivitas, sekaligus seni permainan untuk melahirkan pemenang sejati. Gradasi spirit tertinggi dari peperangan di lapangan hijau adalah magis bola itu sendiri. Magis bola itu, sejatinya bernama kemanusiaan! ***

*) VIKTUS MURIN, adalah kolumnis dan penikmat bola, pernah menjadi jurnalis era 1990-an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *